Berdamai Dengan Diri Sendiri Ketika Marah Dengan Anak - aniskhoircom | a personal blog by Anis Khoir parenting relationship lifestyle

Senin, 05 Februari 2018

Berdamai Dengan Diri Sendiri Ketika Marah Dengan Anak

menghadapi-marah-dengan-anak
Menjadi seorang ibu dari anak kecil yang super aktif perlu berlipat ganda kantong kesabaran. Bahkan ada yang bilang jika ada toko kesabaran maka para ibu-ibu inilah yang menyerbu membeli duluan. Terlebih jika anak pada masa eksplorasi, eksperimen dan pada tahap keingintahuannya yang begitu besar. Segala hal yang ada di rumah bisa jadi sasaran bahkan mungkin barang kesayangan para ibu bisa jadi korban. Maka sesuatu yang manusiawi jika pada akhirnya seorang ibu marah. Namun yang jadi catatan jangan sampai kemarahan tersebut akan menyebabkan “luka” atau kebencian pada ibu dan juga anaknya.

Suatu temuan menarik dari seorang pakar yoga yang pernah saya ikuti tentang hubungan kesuksesan dan luka masa kecil seseorang. Jadi ketika saya masih mengajar dulu pernah mengikuti pelatihan di Malang tentang pendidikan pada anak usia dini. Kebetulan salah satu peserta yang ikut bukanlah dari kalangan guru seperti peserta lainnya. Beliau adalah pakar yoga yang ingin mendalami tentang dunia anak serta karakter perkembangannya. Jadi beliau meminta ijin untuk ikut pelatihan tersebut, dan ditengah-tengah acara beliau diminta sharing pengalaman oleh panitia. Dari paparan beliau ada fakta menarik antara hubungan kesuksesan seseorang dengan pengalaman bersama orang tuanya dimasa kecil. Jadi jika seseorang mempunyai luka terhadap sang ayah maka akan menemui kesulitan dalam hal pekerjaan. Sedangkan jika bermasalah dengan sang ibu maka seseorang akan mengalami kesulitan dalam hubungannya dengan manusia lain termasuk masalah jodoh dan rumah tangga.

Terus bagaimana memperbaikinya?, maka jalan terbaik adalah memulai hubungan baik kembali terhadap oang tua. Bisa karena kita benci pada orang tua sehingga berefek pada saat seseorang besar dan terhadap kariernya. Sehingga memaafkan dan meminta maaf bisa menjadi cara terbaik berdamai dengan masa lalu. Benar juga seperti ungkapan Tere Liye di novel Hujan yang pada intinya “kita tak bisa merubah masa lalu, yang bisa dilakukan adalah memeluknya sehingga masa lalu yang pahit pun akan menjadi indah”
baca juga : 11 cara stimulasi motorik halus anak usia dini
Terus apa hubungannya dengan anak kita sebagai orang tua?. Tentu dengan aktivitasnya yang kadang 
bisa menjadi trouble maker di rumah maka tak jarang kemarahan kita sebagai orang tua akhirnya hadir. Sangat manusiawi marah itu bagi seorang ibu. Namun yang jadi catatan jangan sampai marah itu akan membekaskan luka baik pada sang ibu juga sang anak khususnya. Terus bagaimana caranya agar bisa berdamai dengan diri sendiri ketika sedang marah menghadapi anak?. Berikut ada beberapa cara yang biasanya saya lakukan :
1. Menepi sementara. Ketika sedangkan marah pada anak maka sebaiknya menghindar dari anak sementara waktu. Tujuannya untuk mengontrol emosi kita. Saya jadi ingat bagaimana Rasulullah menunjukkan cara ketika marah yaitu merubah posisi badan. Jika sedang berdiri maka duduklah, jika sedangkan duduk maka berbaringlah. Dan alangkah baiknya lagi jika mengambil air wudhu yang bisa menyiramkan kesegaran dan meredakan kemarahan.
2. Melihat masalah dari kaca mata anak. Pernah suatu hari saya dbuat emosi oleh Wan karena masalah pakaian. Bagaimana tidak, seharian saya melipat baju dengan tujuan rumah yang berantakan karena pakaian yang entah berada hari terkumpul tanpa dilipat itu akhirnya bisa menyempatkan untuk dilipat. Namun ketika saya mandi, tragedi pun terjadi. Semua pakaian masuk ke lemari. Namun bukannya rapi tapi berantakan sana-sini. Dan dengan menahan emosi saya tanya Wan, dengan polos jawabannya “membantu ibu”. Dengan demikian bukanlah marah namun aku segera memeluknya dengan bangga. Maka maksudnya adalah membantu ibu namun dengan keterbatasannya, bukannya merapikan malah memberantakan.
3. Anak adalah anugerah yang tak ternilai. Di beri titipan anak adalah sebuah hadiah tak terhingga dalam pernikahan. Maka ketika menjaganya dengan sebaiknya adalah bentuk syukur atas karunia yang diberikan pada kita.

Berdamai dengan diri sendiri ketika marah memang bukan perkara mudah. Namun bukan berarti tidak bisa atau mustahil untuk dilakukaannya. Terus bagaimana anda cara Anda berdamai dengan diri sendiri ketika marah? share disini yuk pengalaman Anda 

7 komentar:

Nurul Rahmawati mengatakan...

Makasiy insightnya mba
Mampir juga ke nurulrahma(dot)com ya

Aisyah Az-zahra mengatakan...

Kereeeeenzz bingitttz emakk ku.. tulisannya beneran mudah di cerna buat aq yang masih awam.thanks sudah share.👍👍

agusheri widodo mengatakan...

Anak tak pernah salah, materi yg luar biasa. Btw, blognya keren....

Kang Nata mengatakan...

berdamai dng diri sendiri akan lebih sukses jika kita ikhlas menerima apa yg terjadi. Tdk mudah tpi dng latihan....maka kita akan menjadi pribadi yg damai dan bijaksana.


maaf gayanya seperti motivator tolong jng ditertawakanya...hehe.

Djangkaru Bumi mengatakan...

Poin pertama itu saya suka, menepi atau menyingkir sejenak terlebih dahulu. Biar tidak terjadi adu kasar atau adu fisik.

Ika Maya Susanti mengatakan...

Wah saya baru tahu nih Mbak yang hubungan ke ortu bisa berkaitan dengan pekerjaan juga jodoh di masa depan. Pantes aja... ��
Btw, yang masih suka susah itu kalau on the spot Mbak. Kitanya multitasking ngejar waktu, anak bersikap yang kita kurang sreg. Jujur, saya suka kelepasan di posisi itu... *sedih

Desi Kusnendari mengatakan...

Suka banget ... semuanya. Isi tulisan dan bahasanya.