Rangkaian Tradisi Pernikahan Di Tuban - aniskhoircom | a personal blog by Anis Khoir parenting relationship lifestyle

Selasa, 25 April 2017

Rangkaian Tradisi Pernikahan Di Tuban




aniskhoir.com .Bulan rajab dipercaya masyarakat sebagai bulan yang baik dalam melaksanakan hajatan pernikahan. Pernikahan  dalam masyarakat umumnya membutuhkan waktu juga biaya yang tidaklah sedikit. Ada prosesi tradisi yang dilalui dari proses awal hingga sampai pada acara pernikahan bahkan kemudian setelahnya yang panjang dan kadang membutuhkan biaya yang tidaklah sedikit. Termasuk bagi masyarakat Tuban tempat saya tinggal ada tahap pernikahan yang biasanya dilaksanakan.


Tak berbeda dengan masyarakat lainnya di Tuban pernikahan diawali dengan sebuah lamaran pihak laki- laki ke perempuan. Di daerah lain lamaran adalah datangnya pihak laki- laki bersama keluarganya dengan membawa berbagai seserahan yang berupa makanan dan perlengkapan si calon istri dari ujung kaki sampai atas kepala. Di Tuban yang namanya lamaran adalah datangnya laki- laki yang biasanya hanya sendiri atau ditemani satu orang ke rumah calon istri untuk mengungkapkan keinginannya menikahi anak perempuan kepada orang tuanya. Kemudian pihak wali perempuan akan datang ke keluarga laki- laki dengan maksud menanyakan kebenaran lamaran tersebut kepada keluarga laki-laki apa menyetujui jika sang anak laki- laki menikahi anak perempuannya. Jika telah disepakati, maka akan ditentukan hari “nggemblok” yaitu semacam membawa makanan berupa nasi, lauk pauk, buah, gula, kopi, dan lainnya dengan jumlah yang banyak (bisa gula 100kg, kopi 10 kg, pisang bertundun-tundun dan masih banyak lagi) ke keluarga laki- laki. Pada hari yang sama dirumahnya pihak perempuan, juga membagikan gemblong atau jadah ke para tetangga dan keluarganya sebagai bukti bahwa anak perempuannya telah ada yang meminta menikahinya. Untuk acara nggemblok jika sesuai tradisi bisa menghabiskan uang puluhan juta.

Selanjudnya pada hari H pernikahan sebelum pihak laki- laki datang ke rumah pihak perempuan untuk akad nikah, maka ada perwakilan keluarga pihak perempuan menjemput ke rumah pihak laki- laki membawa tonjokan (nasi plus lauk pauknya). Untuk masalah penjemputan, tergantung di keluarga mana akad nikah dilakukan, jika di keluarga perempuan maka pihak laki- laki yang dijemput atau sebaliknya. Pada saat datang kekuarga perempuan inilah pihak laki “mengembalikan”apa yang di bawa pihak perempuan ke pihak laki- laki pada waktu “nggemblok”.Untuk adat pernikahan pada hari H tak berbeda pada pernikahan jawa lainnya dengan prosesi sungkem dan sebagainya.

Setelah satu minggu setelah hari pernikahan dilaksanakan, atau orang jawa menyebut istilah sepasar pihak keluarga perempuan kembali membawa makanan dalam jumlah yang banyak ke rumah laki- laki serta ke rumah masing- masing saudara dari keluarga laki- laki (misalkan ke paman, nenek, Bu dhe dsb) yang disebut dengan istilah “kirem”. Sang pengantin baru yang menyerahkan kirim tersebut ke sanak familinya dan biasanya makanan tadi diganti sanak familinya berupa gerabah, uang bahkan kadang emas. Selain itu pihak keluarga paik laki- laki maupun perempuan mengadakan semacam acara tasyakuran yang mengundang tetangga dekat.

Rangkaian panjang acara pernikahan baru ditutup ketika selapan yaitu hari ke 36 setelah ahad nikah. Tak jauh beda dengan pada sepasar, pada selapanan keluarga perempuan juga mengirim makanan lagi yang hampir sama ke keluarga serta sanak family yang sama pada acara sepasar. Untuk membawa makanan biasanya membawa mobil pick up. Bisa dibayangkan jumlah yang harus dibawa makanannya, dan untuk memasak tak jauh beda seperti akan punya hajat pernikahan lagi.

Tidak semua daerah di Tuban masih memegang adat- istiadat serta tradisi pernikahan seperti diatas. Biasanya yang masih menjalankan tradiisi nggemblok serta kirem adalah yang tinggal di desa dan pasangan pernikahan tersebut berasal dari daerah yang berdekatan. Yang sudah tidak menjalankan biasanya yang pengantinnya berbeda daerah atau ketidak-adaan dana yang di miliki oleh keluarga untuk tradisi kirem tersebut. Biasanya sebelum melaksanakan pernikahan mereka akan menyepakati nantinya ada tidak nya tradisi ini.

Begitulah, lain lubuk lain ikannya lain daerah lain tradisinya. Tradisi ada karena ada suatu alasan yang terkandung di dalamnya.Seperti tradisi kirem ini adalah bertujuan menyambung silaturrahim tak hanya pada keluarga inti sang mempelai namun juga keluarga besarnya. Namun biaya yang besar dan juga tenaga tak semua bisa melakukannya. Kembali lagi pada diri masing- masing untuk melaksanakan tradisi tersebut atau tidak.

13 komentar:

Junaidi Net mengatakan...

Di daerah saya pada umumnya juga masih memegang teguh tradisi adat semacam ini bu anis. Ah jadi pengen merasakan prosesi pernikahan. ahahhaha Mantap.

Suwiknyo Hadi S mengatakan...

Tuhan mentaqdirkan kita sebagai orang jawa sudah seharusnya kita...melestarikan budaya dan tradisi kita....

Arinta Adiningtyas mengatakan...

Masyarakat Jawa Timuran emang terkenal gede-gedean kalo mempersiapkan pernikahan ya Mba? Kalo di tempat saya termasuk sederhana..hehe..

kopi curup mengatakan...

Di sana budayanya kental dengan budaya Islam ya..

dekcrayon tata mengatakan...

wah kalau uda bicara adat,rada ribet ya mbk hahahah

anis khoir mengatakan...

Ndang Ayo om Jun, KUA masih buka kok. Hehe

anis khoir mengatakan...

Tapi jangan sampai tradisi memberatkan untuk melaksanakan ibadah yaitu menikah

anis khoir mengatakan...

Benar banget mbak Arin, sampai bisa bangkrut akibat pesta pernikahan

Anis Khoir mengatakan...

Masih percampuran sih..

Anis Khoir mengatakan...

Bisa dibilang begitu, apalagi adatnya butuh biaya banyak

Ibu Dila mengatakan...

Wooow, baru tau kalo di Jawa Timur ada tradisi yang cukup panjang begitu plus lumayan juga dananya. Kirain lamaran sama akad + resepsi dah gitu aja. Ternyata panjang juga ya

Kalo diikuti bisa habis berapa gitu, mb?

Wuri Nugraeni mengatakan...

Menarik nih, tp dulu sy nikahnya biasa gak pake adat2 hehehe

Adhi Sutowo mengatakan...

Monggo lho...nanti adat resepsinya bisa saya bantu....hehe