Mengikat Bacaan Lewat Tulisan aniskhoir.com

Sunday, 24 September 2017

Mengikat Bacaan Lewat Tulisan




Dengan berjalannya usia yang semakin menua, kemampuan untuk mengingat pun semakin berkurang. Kadang serasa ilmu sekedar lewat kepala saja. Masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri. Dan saat dibutuhkan sebagai referensi untuk pembenaran tindakan misalnya akan mengalami lagu tahun 2000an, lupa- lupa ingat. Pun ketika dimintai pendapat maka dimulut sudah mau keluar kata, namun pikiran masih mencerna dan mencari file data. Jika demikian benarlah sabda Baginda Rasul Muhammad SAW “Ikatlah ilmu dengan tulisan”.

Sebagai penulis  berdasarkan moody kadang saya mengalami writer block. Sebuah kondisi dimana mengalami kebuntuan ide serta tak dapat menuliskan kata sama sekali. Biasanya jika lancar maka sejam akan mendapatkan tulisan berlembar- lembar. Namun ketika sedang mengalami writer block hanya layar putih kosong yang terpampang. Ide yang tadinya berloncatan riang kemudian pada pergi berlarian. Dan jari yang biasanya lincah menari mengukir kata kemudian hanya diam saja.


Jika telah terserang virus menulis writer block apakah kemudian saya pergi dan tak menulis lagi?. Tentu TIDAK. Menulis bagi saya ibarat sebuah terapi jiwa agar tetap waras menghadapi dunia. Bukan terlalu mendramatisir namun bayangkan saja jika cinta terhadap menulis yang bersemi harus kandas karena sebuah writer block tentu akan membuat kewarasan minimal akan berkurang. Terus bagaimana menghadapi writer block yang menjadi enemy number one bagi penulis itu?

Menuliskan apa saja yang ada pikiran. Pasti bingungkan katanya tidak punya ide tapi kenapa malah harus tetap menulis. Menulis disini menulis bebas. Jangan pikirkan tentang tema, alur tulisan atau kaidah dalam bahasa. Buat menulis mengalir begitu saja. Dan dengan berjalannya waktu tak terasa rangkaian tulisan telah memenuhi layar yang tadinya putih bersih itu. Dari situ ide pun sedikit demi sedikit akan muncul dan barulah siap untuk menulis yang sesungguhnya. Kalau sudah demikian pada akhir tulisan memperbaiki susunan kata baru kita lakukan.


Beristirahat. Melakukan sesuatu dengan terpaksa tak akan menyenangkan jadinya. Begitupun dengan menulis. Menulis selayaknya terapi jiwa seperti ungkapan saya diatas jangan dijadikan sebagai beban tapi lakukan dengan fun. Jika ide tak didapatkan bolehlah melihat keluar untuk sekedar jalan- jalan. Mencari udara segar yang akan mengirim sinyal positif ke otak untuk mendapatkan ide baru. Atau dengan mengamati sekitar akan akan ada ide yang tertangkap untuk bisa dituliskan.

Kembalilah membaca. Menulis lahir ketika seseorang biasa membaca dan menemukan suatu permasalahan dari tulisan yang ingin diungkapkan. Karena bagaimanapun membaca dan menulis merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Namun untuk bisa konsisten membaca bahkan mempunyai waktu khusus untuk berkholwat dengan buku masih sulit bagi saya sendiri khususnya. Dengan pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya atau kadang ingin membaca malah diminta membacakan buku oleh si kecil. Untuk menyiasatinya menunggu si kecil bisa jadi cara ampuh bagi emak seperti saya untuk bisa tetap membaca.

Dengan membaca akan banyak ide yang muncul dan akan sayang jika tanpa dituliskan. Apalagi jika tulisan itu bisa dibaca oleh kalayak umum dan memberikan manfaat. Namun untuk bisa melahirkan tulisan yang bagus atau minimal nyaman dibaca tentu bukan bim salabim aba kadabra. Namun butuh proses panjang. Melalui pembiasaan menulis, mengamati dan tentunya juga “kulakan” kata lewat membaca. Mengapa saya bilang kulakan?, karena dari membaca tulisan orang lain akan banyak kosa kata yang memperkaya tulisan kita. Juga dengan membaca dapat belajar bagaimana cara menulis yang baik dan yang terpenting memperkaya referensi sehingga tulisan benar- benar hidup dan bermakna.

Dari uraian tersebut tentu tak perlu takut lagi untuk tetap menulis dan menghadapi writer block. Yang terpenting tetap konsisten menulis dengan cara minimal membuat satu hari satu tulisan. Karena bagaimanapun  Veba Volant Scripta Manent (Ucapan akan menguap dan tulisan akan abadi), maka menulis adalah cara yang tepat  “bekerja untuk keabadian (Promoedya A. Toer)”.

#PostinganTematik
#BloggerMuslimah

28 comments:

  1. Uuhhh makasih Kak tipsnya, sering nih aku begini, terlebih aku nulis masih tergantung mood. :'D

    ReplyDelete
  2. Semoga saya juga bisa menulis setiap hari seperti mbak Anis... Aammiin...

    Semoga lombanya menang ya, mbak...
    Sukses!

    ReplyDelete
  3. Menulis untuk berbagi informasi.... Semangaaat!

    ReplyDelete
  4. "Kulakan"! Setuju ..Banya baca menjadikan kata-kata di tulisan kita bukan itu-itu saja.
    Ulasan yang lengkap dan mengena Mbak...Nice!

    ReplyDelete
  5. Konsisten membaca dan menulis memang berat. Godaan gadget untuk ngobrol ngalor ngidul sama temen lebih kuat hehe. Bismillah aja, semoga semangatnya gak sering kendor. Btw, kalimat "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya" itu bukan perkataan Rasulullah tapi Ali bin Abi Thalib :-)

    ReplyDelete
  6. mengikat bacaan lewat tulisan, bismillah tetap istiqamah, nice post mba :) salam kenal, ya

    ReplyDelete
  7. membaca dan menulis dua hal yang berkaitan satu sama lain kita tak bisa menulis tanpa membaca begitu sebaliknya kalau hanya membaca tanpa menulis cepet lupa. Hey mba anis udah lama banget aku gak mampir ke rumah mu hehe..

    ReplyDelete
  8. Dengan membaca, banyak ide akan dapat tercipta. Salah satu cara saya menghadapi writer's block adalah membaca.

    ReplyDelete
  9. Pas banget aku lagi kehilangan mood menulis beberapa hari terakhir ini. Padahal bahan tulisan ada, tapi memang lagi lelah aja sepertinya. Butuh istirahat dan banyak membaca.
    Aku suka banget sama judulnya, Mbak. "Mengingat Bacaan Lewat Tulisan", benar sekali yang namanya faktor usia kadang membuat daya ingat kita jadi berkurang, makanya menulis jadi penting agar bisa terus mengingat.
    Terima kasih sudah diingatkan untuk kembali menulis ya, Mbak.

    ReplyDelete
  10. Kalo sedang mengalami writer block, saya tidur hehe... Tentu saja tidurnya bareng dengan si baby. Setelah bangun dan segar kembali, mulai corat-coret konsep. Biasanya di buku notes karena tidak mungkin buka laptop atau pegang tab jika si kecil terjaga.
    Dan betul, seharusnya bekal membaca diperbanyak daripada chit-chat terlalu lama di medsos. Terima kasih ilmunya mbak ^^

    ReplyDelete
  11. Setuju banget, rumusnya menulis kan membaca dan menulis :)
    Semoga istiqomah membaca dan menulis. aamiin..

    ReplyDelete
  12. Konsisten, satu kata yang masih jadi PR besar buat saya.

    ReplyDelete
  13. Mau bikin satu hari satu tulisan itu teramat susah, terkadang fikiran malas untuk berfikir, maunya membaca saja.

    ReplyDelete
  14. Masih belum bisa konsisten nulis nih ;(

    ReplyDelete
  15. Aku sering juga kena writing block ini. Tipsnya bisa dicoba tuh, makasih ya Mbak.

    ReplyDelete
  16. Membaca adalah salah satu cara mendapatkan ide untuk menulis. Konsisten menulis akan semakin meningkatkan kualitas tulisan :)

    ReplyDelete
  17. Betul banget. Kalau mau menulis biasanya membaca beberapa buku atau tulisan lain untuk referensi. Jadi menulis dan membaca memang satu paket yang tak terpisahkan.

    ReplyDelete
  18. makasih tipsnya mbak, lagi buntu juga ide isi blognya...

    ReplyDelete
  19. Setuju mba...menulis adalah terapi agar kita tetap waras. dan bagi saya ini adalah me time saat si kecil sedang nyenyak tidur dan penghilang stress akan pikiran mumet materi kuliah :D

    ReplyDelete
  20. Writers block itu nyebelin bgtz. Kemaren saya kena writers block hampir sebulanan. Ampun dah. Emang bener bgtz tipsnya, kudu rehat dlu n membaca

    ReplyDelete
  21. Banget, Mbak. Terkadang memang harus kasih jeda buat istirahat sejenak ya, mbak. Biar semangat lanjut nulis dan baca.

    ReplyDelete
  22. Sepakat, Mbak. Menulis itu terapi jiwa jadi harusnya bikin senang... ;)

    ReplyDelete
  23. writers block itu wajar yaa. Harus punya motivasi kuat untuk melanjutkan tulisan. Semangat!

    Salam,
    helenamantra dot com

    ReplyDelete
  24. Nah, ini, nih. Writer Block si penyakit berbahaya. Harus segera disingkirkan. Dan membaca bisa jadi obatnya.

    ReplyDelete
  25. Meski tulisan masih seuprit, saya sangat mengakui kl menulis termasuk makanan jiwa. Paska lahiran hingga sekian bulan saya libur tulas-tulis dan begitulah rasanya hampir "tidak waras".

    ReplyDelete
  26. Klo buat sy tantangan nulis itu mengatur waktu blm bisa konsisten . Sok jd emak rempong hehehe

    ReplyDelete
  27. Kalau kata Tere Liye nih se-ekstrim2nya, nulis sehari satu huruf aja nggak papa. Yang penting udah niat dan konsisten. Gimana tuh? :"D

    ReplyDelete
  28. Wah makasih sharingnya mbk :)

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D