6 Cara Sederhana Mengajari Anak Bicara aniskhoir.com

Wednesday, 16 November 2016

6 Cara Sederhana Mengajari Anak Bicara




Tak ada kata lebih indah yang didengar orang tua dari ocehan “ngawur” yang diucapkan anak ketika mulai belajar bicara. Orang merasa bahagia mendengarkan anaknya berkata untuk pertama kali meski tak bisa dipahami. Menanti supaya anak mengucapkan lagi dan lagi. Tidak jarang,  bahasa anak tersebut pada akhirnya menjadi bahasa keluarga yang ditirukan seluruh anggotanya.

Perkembangan bahasa anak diawali dari celotehan, kemudian kata yang kadang hanya orang terdekatnya yang mengerti selanjutnya kalimat yang terdiri dari beberapa kata. Ada yang setahun usianya telah memiliki kemampuan bahasa yang bagus, namun tak jarang ditemui meskipun telah besar. namun dalam segi bahasa tertinggal. Setiap anak memang memiliki kecerdasan masing- masing yang telah di bawa sedari lahir dan tumbuh kembang sesuai milestone-nya. Namun keterlambatan bahasa akibat dari factor luar yaitu lingkungan di sekitarnya menjadi suatu yang harus diperhatikan.

Sepertinya bukan hal yang sulit mengajari bayi untuk berbicara. Karena setiap haripun bahkan hampir setiap menit tak terpisahkan dari bicara sendiri. Akan berbeda ceritanya jika mengajari berbicara kepada bayi.  Karena bayi bukan replica orang dewasa yang sama dalam proses belajarnya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengajari anak berbicara.Diantaranya yaitu:

   "Berbicara dengan bahasa yang jelas."
      Berbicara selayaknya berhadapan dengan orang dewasa namun tentunya dengan gaya bahasa bayi. Sangat tidak disarankan untuk berbicara cadel menirukan sang anak. Bagaimanapun anak adalah sang peniru ulung. Sehingga anak akan mengira bahwa bahasa tersebut telah benar dan menggunakan terus sampai masa kanak- kanaknya.
Mengajaknya berdoa, bernyanyi dan bercerita. 
Dengan mengajak anak berdoa, selain melatih komukasi pada anak juga sekaligus mengajarkannilai spiritual secara sederhana. Begitupun dengan bernyanyi dan bercerita atau mendongeng. Selain kosa kata anak menjadi lebih banyak baik dar nyanyian maupun cerita, juga dapat digunakan sebagai sarana untuk pembentukan moral bagi anak.

3.       Memandang mata anak ketika berbicara. 
Ketika berhadapan, anak akan mengerti mimic bicara dari orang yang mengajak bicaranya. Sehingga anak akan mengetahui cara pengucapan yang benar. Selain dengan berpandangan, akan akan belajar tentang ekspresi baik itu ekspresi senang, sedih dan lainnya. Ada lagi, dengan berpandangan dengan anak akan membangun bonding/ kedekatan dengan si anak.

4.       Berbicara sebanyak mungkin dengan anak.
Berbicara bisa memperbanyak kosa kata sang anak serta pengetahuannya tentang dunia di sekitarnya.Tentunya berbicara yang kita lakukan tak sekedar berbicara tanpa arti, namun berbicara juga dijadikan sebagai stimulasi bagi bicara si anak  dengan cara menekan pengucapan sebuah kata yang ingin dijelaskan kepada si anak.

5.       Menterjemahkan apa yang di tunjuk anak.
Ketika belum bisa mengucapkan apa yang di inginkan anak kan cenderung menunjuknya. Kita menterjemahkan dengan mengucapkan apa yang diinginkannya. Sehingga ketika dapat berbicara anak dapat mengunggapkan apa yang diinginkan dengan kata- kata yang benar dan mengkomunikasikan apa yang diinginkannya.

6.       Menjelaskan kronogi.
Maksudnya di sini adalah ketika anak menginginkan sesuatu, minum misalnya kita jelaskan sebelum mengambil minum harus mengambil gelas dulu. Menuangkan air baru memberikan pada sang anak. Selain memperbanyak kosa kata, menjelaskan suatu kronologi juga dapat melatih kesabaran anak. Selain itu anak dapat sedini mungkin memahami bahwa sesuatu tak di dapat dengan instan, tapi melalui suatu proses yang kadang harus memerlukan waktu yang lama. Sepertinya langkah ini tak dimengerti anak. Namun dengan berjalannya waktu anak akan memahami dan mengerti.

Yang jadi catatan, setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda, termasuk dalam hal berbicara. Beberapa kasus yang saya temui, ketika anaknya terlambat bicara (dalam artian tak ada kelainan dalam hal organ tubuhnya) kebanyakan factor lingkungan atau salah kepengasuhan. Kadang kita berbicara pada anak seolah mereka orang dewasa tanpa sebuah pandangan, penekanan kata yang kita anggap perlu, atau berbicara sambil lalu. Sehingga tak ada jaminan sang ibu/pengasuh sangat cerewet namun sang anak dapat berbicara dengan begitu cepat atau dengan pelafalan yang jelas.

Setiap orang tua, ibu khususnya punya cara tersendiri mengajari buah hatinya berbicara. Ini dari saya, bagaimana dengan pembaca?

3 comments:

  1. Waaaa.. Pas bgt ni tipsnya mbak,aku jg lagi ngajarin anakku ngomong :D

    ReplyDelete
  2. makasih mba tipsnya..alhamdulillah 2 anak saya yang sudah besar smuanya lancar dalam berkomunikasi dan cepat lancar bicara.. kebetulan saya dn istri seneng ngomong dan terbilang cerewet jadinya anak-anak banyak mendengar kosakata hehe.. kalau diperhatikan walau gak semua yah..anak-anak yang agak lambat bicara biasanya ibu bapaknya tipe pendiam atau gak banyak saling berkomunikasi jad anak juga mungkin kurang peka dengan kosakata dan keinginan untuk mengungkapkan kata-kata..

    ReplyDelete
  3. Benar banget mbak, banyak anak yang pintar ngomong ya karena ibunya aktif ngajak anak itu interaksi, pembahasannya menarik.

    Salam,
    Syanu.

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D