Tips "Berdamai" Dengan Mertua

Sunday, 6 December 2015

Tips "Berdamai" Dengan Mertua

kredit
Suatu keniscayaan bahwa sebuah pernikahan akan menempatkan seseorang sebagai peran menantu. Itu artinya, ada orang tua baru yang wajib dihormati, disayangi dan diperlakukan selayaknya orang tua kita yang sesungguhnya. Tidak ada kata tawar untuk itu. Namun rasa kikuk , ewuh pakuwoh, ataupun sungkan tidak jarang menjadi kendala.
Agak aneh memang, jika secara logika orang yang sebelumnya bukan apa- apa, yaitu dalam istilah bahasa jawa disebut "MOROTUO", moro-moro wis tuo (datang-datang sudah tua) namun kemudian jadi bagian inti keluarga, bahkan dalam tatanan agama mertua merupakan muhrim.

Mengambil analogi gelas, akan berdenting jika gelas saling berdekatan satu yang lainnya. Hanya ada sunyi jika berjauhan tak menimbulkan suara. Begitulah, menantu dan mertua karena kedekatan satu dengan yang lainnya pada suatu titik akan mengalami suatu pergesekan. Entah pendapat ataupun tingkah yang pada akhirnya menimbulkan ketidaknyamanan. Suatu yang riskan jika dibiarkan begitu saja. Tidak jarang karena hal yang sepele namun berlarut pada akhirnya menjadi bola salju permasalahan. Dan, percekcokan berujung memutuskan hubungan keluarga sangat disayangkan.

Setiap menantu punya cara tersendiri memaknai kata mertua dalam kehidupan barunya. Di sini saya share beberapa kiat menyikapinya. Bukan maksud menggurui, tapi untuk saling berbagi.


  • Memanggap mertua selayaknya orang tua sendiri. Ketika akad nikah terucap, itu artinya orang tua pasangan kita juga orang tua kita. Paket komplit pokoknya, mendapatkan anaknya sekaligus orangtuanya. Artinya, mereka semua sudah menjadi bagian hidup kita. Tidak boleh ada beda antara orang tua kita sendiri dengan orang tua pasangan. Intinya "orang tua mu (pasangan) orang tua ku orang tua mu (pasangan). Kalau mulai dari diri sendiri bisa adil memperlakukan orang tua pasangan, bisa dipastikan pasangan kita akan berlaku pula sebaliknya. 
  • Diam jika ada benturan. Diam di sini bukan berarti sebagai pihak yang bersalah, namun ibarat air menjadi penyejuk sehingga kondisi tak semakin memanas. Ada kalanya orang tua menginginkan yang terbaik buat anaknya. Dan tidak jarang, karena pilihan kata yang kurang tepat menimbulkan ketidaknyamanan karena mertua merasa lebih tua. Memilih untuk diam dari pada menimbulkan perdebatan merupakan pilihan yang terbaik untuk menghargai mereka. 
  • Menjadikan pasangan sebagai mediator. Jika diam bukan lagi sebagai emas. Dan, diam semakin menjadikan situasi memanas, maka saatnya mediator diperlukan. Tentunya yang layak pertama jadi mediator adalah pasangan kita, sehingga permasalahan tidak keluar kemana- mana dan pada akhirnya menjadi rahasia keluarga menjadi konsumsi publik. Bagaimanapun pasangan lebih paham karakter orang tuanya sehingga lebih mudah menghadapinya. Maka yang harus dilakukan sebelum pasangan sebagai mediator jangan sampai memperkeruh suasana. Bukan mengadu domba orang tua dengan anak tetapi mencari jalan tengah untuk kebaikan bersama. Orang tua tidak merasa didurhakai anaknya, dan istri/suami tidak merasa didholimi pasangannya.
Semoga tips yang sederhana bisa menambah wawasan bagi pembaca yang telah mempunyai mertua, atau yang akan memilikinya.
  •  





4 comments:

  1. Kalo sama mertua masih dalam batas saya mak, maksudnya ga pernah bertengkar heboh hanya karena masalah kecil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. memang sebisa mungkin harus menjaga jangan sampai terjadi pertengkaran

      Delete
  2. kalau aku memang agak menjaga jarak krn takut berbenturan apalagi ibu mertuaku orangnya peka banget sedangkan aku tipe yg blak-blakan . Dengan demikian aku aman-aman saja dg mertua

    ReplyDelete
    Replies
    1. setiap orang punya cara tersendiri untuk "berdamai" dengan mertuanya ya mbak

      Delete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D