Lagi, Belajar Ikhlas

Tuesday, 31 March 2015

Lagi, Belajar Ikhlas


Gambar dari sini

Ikhlas merupakan kata sederhana namun dalam maknanya. Diperlukan hati yang benar- benar suci untuk dapat mengaplikasikan dalam kehidupan, dan tidak semua orang bisa melakukan. Mulut bisa berkata “ikhlas” namun hati tidak bisa terbohongi. Begitulah, ilmu ikhlas bak ilmu tingkat dewa. Namun, setinggi apapun ilmu itu jika kita sungguh- sungguh kita kan mampu melakoni ikhlas yang sesungguhnya.
Sekitar sebulan lalu, ikhlas itu benar- benar menguji saya dan suami. Berawal dari seorang teman suami yang meminta bantuan pinjaman sejumlah uang karena adiknya harus di operasi. Sebenarnya dari track record sebut saja teman suami tadi Jono,  kurang baik, dalam artian kurang bertanggung jawab terhadap amanah. Dan bukan suami saja yang yang telah mengalaminya, namun dari beberapa teman suami yang lain pun demikian hal yang sama. Intinya “kapok” berurusan masalah utang piutang dengan si Jono. Namun, pertimbangannya kami kali ini, bukan pada si Jono namun tentang nyawa seseorang yang harus segera di selamatkan, dan Jono pun meyakinkan kami kalau dalam tiga hari uang itupun akan dikembalikan. Akhirnya setelah saya dan suami berdiskusi, kami pun sepakat meminjamkan sejumlah uang simpanan kami yang nantinya kami gunakan untuk persiapan kelahiran si buah hati.
Dan, ketika waktu yang telah dijanjikan, Jono pun belum menghubungi kami. Pikir kami mungkin sedang mencari uang untuk kembalikan. Karena kami sadar tidak mudah mencari sejumlah uang tersebut, meskipun di awal kata Jono orang tuanya akan menjual motor. Namun, beberapa hari kemudian setelah tak ada konfirmasi, maka kami pun menanyakan bagaimana uang tersebut. Dengan enteng Jono mengatakan yang minjam bukan dia, tapi bapaknya sehingga Jono tak bisa berbuat apa menunggu bapaknya mengembalikan. Kami sempat kecewa dengan jawabannya, karena bagaimana pun uang itu sampai ke bapaknya untuk operasi adiknya melalui Jono, artinya kami mengamanahkan uang tadi pada Jono. Setidaknya jika belum bisa mengembalikan ada pembicaraan atau sekedar kata maaf sehingga itikad baik itu bisa menghapus kekecewaan kami. Keikhlasan yang semula ingin kami berikan menjadi tercemar oleh sikapnya Jono tadi. Selanjudnya ketika kami konfirmasi selalu ada saja alasannya. Yang katanya sakitlah belum bisa mengantar uang ke rumah kami, namun di BBM status dan foto profile sedang nonton pertandingan bola. Juga beralasan ada kegiatan sekolah yang tidak bisa di tinggal dan lainnya.Kadang kami lelah menagihnya, serasa jadi debt collector yang mengejar- mengejar nasabah. Intinya sekarang, kami pasrahkan sekarang apa yang kami lakukan sebagai sebuah amalan ibadah atau hanya amalan tanpa arti, hanya Allah S.W.T yang tahu.
Setelah satu bulan, setelah beberapa kali drama penagihan akhirnya Jono pun mengembalikan dua pertiga pinjaman kepada kami, Kami sempat kecewa karena tidak semua. Namun sisi positifnya uang kami tidak semua yang di bawa si Jono. Dan, sekarang tinggal sepertiganya yang tiap kami tanyakan selalu aja ada alasan. Entah uangnya dipakai istrinya, no rekening yang kami berikan ke hapus atau yang lainnya. Kadang jika dihadapkan dengan orang yang tidak punya malu, kita harus juga bermuka tembok untuk menghadapinya. Rasanya ewuh pakewuh sebagai teman telah hilang. Dan sekarang kami pun melapangkan dada, jika segala usaha untuk meminta hak uang kami sudah kami lakukan tapi belum kembali, berarti uang tadi sesungguhnya belum rejeki kami. Dan yang terpenting kami pun harus belajar tentang makna ikhlas lagi bukan sekedar teori tetapi sebuah laku nyata ketika dihadapkan pada permasalahan ikhlas yang sesungguhnya.

4 comments:

  1. Aneh, masa si Jono yang pinjam uang terus dia bilang yang meminjam adalah bapaknya. Semoga Mbak bisa ikhlas dan mendapatkan ganti yang berlipat-lipat.

    ReplyDelete
  2. semoga mendapat ganti yang lebih besar mba...memang berat harus ikhlas sementara kita butuh ..

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D