Di Putus Sahabat

Monday, 16 February 2015

Di Putus Sahabat



“Kalau gak ada Loe gak rame”, kalimat yang sangat cocok menggambarkan arti sahabat. Kata sebuah iklan sih begitu. Yang namanya sahabat menjadi sebagian jiwa yang mulanya bukan siapa- siapa, tanpa sebuah ikatan darah atau semacamnya. Namun keberadaannya melebihi orang terdekat kita, bahkan orang tua. Betul kan?.
Persahabatan dibangun bukan dalam hitungan hari atau bulan, ada yang membangun sebuah persahabatan perlu puluhan tahun sehingga memahami sang sahabat. Karena memberi dan menerima satu paket kelebihan dan kekurangan perlu waktu lama, dan seperti seleksi alam akan berguguran jika tidak sesuai dengan kriteria. Begitulah tidak mudah dan juga tidak sulit ,menemukan sahabat sehingga bisa menjadi teman berbagi dalam suka dan duka, sampai maut memisahkannya. Huhui seperti sebuah pernikahan saja.

Seperti pasangan hidup persahabatan ada fluktuasinya. Pertengkaran atau ketidak sepahaman adalah hal biasa. Malah hal itu bisa menjadi bumbu penyedap persahabatan. Namun yang jadi catatan di sini jangan sampai ketidaksepahaman menjadi bibit retaknya sebuah ikatan persahabatan. Bahkan sampai putus dan mengikat tali silaturrahim pun enggan sudah. Sebuah irosnis jika hal itu sampai terjadi.
Catatan ini sebenarnya terinspiasi dari teman saya yang bersahabat sekian lama. Tetapi dengan berjalannya waktu dan masing- masing telah berumahtangga keretakan persahabatan diantara mereka pun terjadi. Bukan lagi retak tepatnya, namun sebuah kata putus. Adanya suami si sahabat yang tidak mengijinkan mereka bersahabat lagi memaksa mereka harus “putus”. Patut disayangkan, apalagi dahulu kedekatan mereka membuat kami disekitarnya menjadi iri hati. Seperti tak ada yang ditutupi diantara mereka, bahkan mungkin karena seringnya bersama membuat wajah mereka menjadi mirip. Kesamaan postur tubuh yang tinggi serta pakaian yang sering sama membuat banyak yang menyangka bahwa mereka adalah saudara kembar.

Ada kekecewaan yang besar teman saya mengetahui bahwa dia diputus sahabatnya. Usaha untuk menumbuhkan persahabatan diantara mereka sepertinya hanya sebuah kesia-sian saja. Mencoba dengan menelpon maupun sms, naum jarang sekali dijawab. Dibalas pun dengan nada yang kurang mengenakan hati. Ketika bertemu lebih pada memalingkan muka. Ada perasaan yang sangat tidak nyaman bagi sang teman. Ditanya pun alasannya klise saja, “waktu saya hanya untuk suami”. Padahal dari teman saya tadi sahabatnya mengenal laki- laki yang sekarang jadi suaminya, namun mengherankan justru jadi pemutus tali persahabatan mereka. Mungkin ada sebuah sakit hati yang tidak terungkap sehingga si suami istri tadi memilih untuk putus dengan teman saya  yang dulu sahabatnya.

Sebuah syukur yang tidak terhingga kemudian hadir dihati saya. Diberikan seorang suami yang senantiasa mengijinkan saya untuk bersahabat dengan siapa saja, dan terus mendukung untuk mempertahankan persahabatan yang telah terjalin jauh sebelum saya menikah dengannya. Karena sesungguhnya seperti sebuah pernikahan, persahabatan itu mahal harganya. Jadi jangan sia- siakan sahabat- sahabat Anda.

5 comments:

  1. Betul, Mbak. Bahkan mungkin waktu yang kita habiskan selama ini lebih banyak dengan para sahabat daripada keluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya lutfi, apalagi yang berada di perantauan

      Delete
  2. hmm amat disayangkan ya bisa putus persahabatan gt..Aku jg bersyukur mba punya suami yang pengertian yg tdk melarang kita untuk menjalin pertemanan dan persahabatan dengan siapa saja, yg penting kita tahu posisi kita sekarang sudah menjadi istri dan ibu anak2..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal untuk membangun persahabatan sendiri tidaklah mudah.

      Delete
  3. Kalau saya malah yang memutuskan sahabat,
    alasannya klasik, dia menyakiti hatiku.

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D