Negeri dalam bis Pantura

Sunday, 14 September 2014

Negeri dalam bis Pantura



Sambil menyelam minum air, itulah ibarat yang menganalogikan apa  yang aku tulis sekarang. Jika disamakan dengan prosedur, jelas temuan saya bukan sesuatu yang ilmiah. Karena beberapa tahap tidak dapat saya lakukan, dan ini merupakan penggeneralisasian dari sebuah pengalaman.Sayang sekali kan jika pengalaman yang bisa dikatakan unik  menguap begitu saja tanpa dibagi dengan sesama. Mungkin saja apa yang dalam cerita menjadi hikmah dan tentu inspirasi bagi pembaca.
Beberapa kali menggunakan bis pantura, ada beberapa ritme yang sama yang saya temukan. Pengamen, bis ugal-ugalan, dan empati. Ketiga hal itu yang menjadi rumusan masalah saya. Sampel yang saya gunakan merupakan sampel acak, maknanya jika saya akan naik bis dan kebetulan salah satu bis berhenti mengangkut saya, bis tersebut menjadi sasaran sampel. Dan, ada kalanya saya bisa naik bis yang sama baik ketika berangkat maupun pulang bepergian, bisa juga berlainan terus menerus sampai pada titik yang tak dapat diprediksi. Intinya, tergantung nasib yang mengatur di bis yang mana saya menghabiskan waktu tiga jam dan mendapatkan makna perjalanan.

Sudah tak asing lagi, di beberapa titik pantura terdapat zona kemacetan dan jalan berlubang. Dan kendaraan yang sebagian long vehicle, menambah parah antrian kendaraan. Apalagi sekitar Agustusan beberapa daerah mengadakan karnaval yang melalui jalan utama pantura. Jangan kau tanya teman, bagaimana rasanya jika diburu waktu namun macet menjadi hantu. Sepertinya sudah menjadi tradisi bahwa beberapa bis saling mendahului berburu penumpang. Jikalau seperti ini tentu yang menjadi korban adalah penumpang. Ketika itu bis yang saya naiki tak sabar menunggu antrian atau tepatnya kemacetan sehingga secara rakus makan jalan kendaraan dari arah berlawanan. Sedangkan dari arah berlawan tepat dihadapan bis itu beberapa kendaraan berat, mobil pengangkut motor, Dump Truck, truk penjang pengangkut semen siap menghadang. Polisi yang mengetahui pelanggaran bis itu langsung saja memarahi supir dan menahan bis. Bukannya awak bis menerima tilang atas kesalahannya, malah meminta penumpang laki- laki khususnya untuk “berdemo” pada polisi.

Saya sebagai penumpang jelas dirugikan, terutama waktu. Seharusnya macet satu jam, kami harus menunggu 3 jam karena negosiasi alot antara awak bis dengan polisi. Itu tak ada apa-apanya jika karena kurang kesabaran awak bis, penumpang atau pengguna jalan lain bisa menjadi korban bahkan mungkin bisa jiwa. Sebenarnya alasan awak bis melakukan hal itu klise sekali.  Mereka ingin berebut penumpang dengan armada bis lainnya.Tentunya penumpang mempunyai andil juga atas sikap awak bis tersebut. Penumpang lebih senang melanggar aturan untuk dapat secepatnya sampai tujuan. Pernah suatu ketika saat macet dan sopir bis dengan sabar menunggu antrian, penumpang malah marah- marah dan menyalahkan sopir tak berani mengambil resiko sehingga bis berjalan lamban.

Saya jadi berpikir, tentang nasib bangsa ini. Rakyat kebanyakan yang ingin serba instan untuk mencapai tujuan walau menghalalkan segala cara. Kesabaran untuk bisa antri dan tentunya menghargai hak orang lain rasanya sekarang jauh kita temui. Bukan hanya di jalan raya, pembagian sembako, atau bahkan warung makan ada yang seenaknya menyerobot bagian orang lain. Sekarang mari mengaca diri kita, apakah kewajiban kepada orang lain sudah kita tunaikan sebelum menuntuk hak kita?.

Semoga apa yang saya tuliskan hanya kebetulan, tidak terjadi di daerah, kondisi, masyakat, dan tentunya bukan cerminan dari pribadi bangsa yang kita cintai ini. Saya masih ingat pelajaran waktu SD bahwa Bangsa Indonesia adalah Ramah tamah, sopan santun, dan tenggang rasa. Amat di sayangkan jika sikap elok itu akan hanya menjadi cerita anak cucu kita nantinya. 




8 comments:

  1. Nah itu dia mbak, tempat saya juga gak beda jauh bis solo - semarang juga suka kayak gitu... Belum lagi ke solo ketemu bis jogja - solo yang tak kalah brutal, hehehehe... Sulit mbak merubah hal itu, meski bukan berarti tidak mungkin...

    ReplyDelete
  2. Assalaamu'alaikum wr.wb, Anis.. amat malang jika peraturan jalan raya tidak diambil berat sehingga belaku macet dan berebut-rebut menakluki jalan untuk sampai cepat tanpa menghiraukan kenderaan lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wa'alaikumslm. Wr.wb.
      betul sekali jika hal itu terjadi dan yang dirugikan pasti pengguna jalan itu sendiri.

      Delete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D