Cinta Dari (Mantan) Tetangga

Saturday, 2 August 2014

Cinta Dari (Mantan) Tetangga

Ada kalanya kita tidak tahu pada muara mana kita berlabuh. Seperti terbawa air mengalir yang kemudian 

bergerak dari satu tempat ke lainnya. Tanpa kita rencanakan, bahkan inginkan. Dan, saat tak bisa menolak dari arus itu, ataupun jika menolak itu artinya ada konsekuensi yang besar bagi kehidupan, maka jalan terbaik adalah terbawa, sedih dan ikhlas untuk bergerak dari tempat yang di sana tertemukan makna kebersamaan.

Sebagai "kaki" dari sebuah perusahaan tugas karyawan adalah melaksanakan perintah atasan. Apalagi mutasi itu adalah kewajiban dan mungkin itu adalah doa orang tua yang terkabulkan. Artinya, jika kami mengikuti mutasi tersebut, maka kembali ke kampung halaman suami dan dekat dengan keluarga adalah keniscayaan. Karena si Penguasa Semen ini sebentar lagi juga akan bermigrasi. Kita berpikir, kalau tidak sekarang berpindah, kapan lagi?, jikalau bukan kita yang dekat dengan orang tua,siapa lagi?.

Namun ketika hari "boyong" itu tiba, kesedihan yang sangat bukan akan dekat dengan mertua, namun pada meninggalkan tetangga kami yang begitu baiknya di kota sebelumnya. Bahkan, ketika kami pamit, ada suara serak yang tertahan dan butiran bening di sudut mata mereka. Serta doa panjang buat kebahagian kami di mana kami berada nantinya. Tersentuh pada dasar hatiku. Perhatian mereka pada kami selama ini, yang bukan siapa- siapa bagi mereka, yang tiba- tiba hadir di kampung itu, begitu tulus kami rasakan. Ada kehilangan sangat bagi mereka yang telah menganggap bahwa kami adalah bagian dari mereka.

Tentang perpisaan ini, membawa saya pada kebaikan mereka yang tak bisa terbahasakan semua. Sebagaimana ketika saya sakit dahulu. Dengan bergantian para tetangga menjenguk. Padahal sakit pun tak parah, saya pun sampai malu telah merepotkan mereka, namun itulah bentuk perhatian. Dan, setiap ada acara kampung, mereka dengan "spesial" datang mengundang kami, yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga kadang kurang tanggap dengan kegiataan. Begitupun jika ada hari khusus yang biasanya mereka membuat makanan khusus, dengan setia menghampirkan pada kami. Serta, saat harus memasak, tawaran garam, cabai, atau apalah yang mereka punya di berikan semua untuk bisa saya gunakan dengan cuma-cuma. Itu hanya secuil kisah kebaikan tetangga ku, masih banyak bahkan lebih hebat dari itu.

Saya sering membayangkan tentang desa kecil Edensor dengan penuh kedamaian. Menganggapnya hanya utopia dalam cerita. Namun, saya telah salah menafsirkannya. Edensor memang benar adanya dan aku menjadi bagian di dalamnya. Bukan di lereng bukit yang landai dengan pohon cemara- cemara yang mengelilinginya, namun di tengah hutan beton dan rimba pabrik Edensor itu ku temukan, di kampung itu.  

Dan, saya menjadi sangat kehilangan. Bagaimanapun, perpisahan apalagi dengan (mantan) tetangga ku itu telah membuatku menangis.  

29 comments:

  1. hahah baru denger aku ada mantan tetangga :D wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. cinta itu datang dari mana saja termasuk mantan tetangga

      Delete
    2. Ha-ha-ha, saya juga baru dengar. yang penting bukan mantan teman saja, ya, Mbak.

      Delete
    3. Waahhh, kayaknya banyak yang salah fokus ya klo di baca judulnya saja..
      :D

      Delete
    4. hahah :D betul tuh asalkan jangan mantan teman saja.

      Delete
    5. apa kalian berdua mungkin punya pengalaman tentang mantan teman? :D

      Delete
    6. aieh? hahah :D kalo aku sih tidak. mungkin mas lutfi pernah wkwk

      Delete
    7. bagaimanapun pengalaman adalah guru terbaik

      Delete
    8. This comment has been removed by the author.

      Delete
    9. duh-.-itu motto ku banget mbak -pengalaman adalah guru terbaik- hehe :D

      Delete
    10. semangat- semangat #gagal paham :D

      Delete
  2. Wah berarti mbak Anis baru pindahan ya? Yah memang begitulah mbak, saya juga punya tetangga yang baiknya nggak ketulungan, rumahnya persis di samping kiri rumah bapak saya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Dit, ini barang- barang masih berantakan.
      Kadang, kebaikan tetangga melebihi saudara, maka sabda Rasulullah kita di wajibkan memuliakan tetangga

      Delete
    2. Iya mbak, saya juga merasa begitu, ada tetangga yang baiknya melebihi sodara... Betul banget mbak, kita harus melebihi tetangga... Tapi ada juga lho mbak tetangga yang ngeselin, hehehehe

      Delete
    3. saya juga pernah punya pengalaman seperti itu, malah tetangga yang ngeselin seperti musuh dalam selimut. hehehe

      Delete
  3. Assalaamu'alaikum wr.wb, Anis Khoiriyah...

    Selamat berpindah dan mudahan perpindahan (hijrah) itu akan mendatangkan lebih banyak manfaat dan bertambahnya rezeki dalam kehidupan. Perpisahan amat menyakitkan sesiapa sahaja setelah sekian lama selesa dengan situasi dan kondisi setempat yang amat mesra dan menyenangkan. Mungkin dengan adanya perpisahan kita baru mengerti erti kehilangan dan kasih sayang yang erat. Insya Allah, nanti diganti Allah dengan yang lebih baik dari itu di tempat yang baru. Apa pun yang berlaku, semuanya sudah diatur urus leh Allah SWT untuk menjadikan hidup kita beragam emosi.

    Salam manis dan sukses selalu dari Sarikei, Sarawak. :D
    SITI FATIMAH AHMAD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali mbak Fathimah, kalau tetap di sana mungkin belum tahu kalau mereka sayang banget ma kita.
      Amiin, Semoga tempat baru ini barokah

      Delete
  4. Mantan tetangga tak akan pernah terlupa ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak..
      mereka telah memberikan limpahan kasih sayangnya pada kita, padahal sebelumnya kita bukan apa- apa mereka

      Delete
    2. jadi seperti saudara ya mbak

      Delete
    3. iya mbak ely.
      ceritanya nemu saudara ;)

      Delete
  5. saya pernah mendapatkan sebuah nasihat...tetangga adalah keluarga terdekat kita...jadi jangan pernah mengabaikan tetangga..apalagi mantan tetangga....keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul pak.
      meski sekarang mereka bukan tetangga kita, namun tali silaturrahim yang telah tersambung jangan sampai terputus

      Delete
  6. jadi inget mertua saya. Punya rumah besar di Bandung. Tapi lebih memilih tinggal di Jakarta yang jalannya sempit. Alasannya rasa kekeluargaan antar tetangga di tempat tinggal di Jakarta itu erat banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak..
      yang jadi perhatian ketika membeli rumah yang pertama adalah lingkungan ya mbak

      Delete
  7. Mbaak, apa kabar?, lama nggak BW, hehe, maaf. semoga selalu dalam keadaan baik.

    Kebayang kedekatan antar tetangga di sana, meski sekalipun jarang ngumpul, tapi rasa memiliki dan kebersamaan warganya bagus sekali. Kalau sudah pindah, mungkin rasa rindu akan kebersamaan itu yang mengusi yah, mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. pantesan lama gak muncul :D

      betul sekali, masa2 bersama dengan tetangga itulah yang kini kadang menajadikan rindu sekali

      Delete
  8. hadir kembali menyapa sahabat...keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya pak hariyanto.
      terima kasih kunjungannya

      Delete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D