Saturday, 2 August 2014

Cinta Dari (Mantan) Tetangga

22:33:00 29 Comments
Ada kalanya kita tidak tahu pada muara mana kita berlabuh. Seperti terbawa air mengalir yang kemudian 

bergerak dari satu tempat ke lainnya. Tanpa kita rencanakan, bahkan inginkan. Dan, saat tak bisa menolak dari arus itu, ataupun jika menolak itu artinya ada konsekuensi yang besar bagi kehidupan, maka jalan terbaik adalah terbawa, sedih dan ikhlas untuk bergerak dari tempat yang di sana tertemukan makna kebersamaan.

Sebagai "kaki" dari sebuah perusahaan tugas karyawan adalah melaksanakan perintah atasan. Apalagi mutasi itu adalah kewajiban dan mungkin itu adalah doa orang tua yang terkabulkan. Artinya, jika kami mengikuti mutasi tersebut, maka kembali ke kampung halaman suami dan dekat dengan keluarga adalah keniscayaan. Karena si Penguasa Semen ini sebentar lagi juga akan bermigrasi. Kita berpikir, kalau tidak sekarang berpindah, kapan lagi?, jikalau bukan kita yang dekat dengan orang tua,siapa lagi?.

Namun ketika hari "boyong" itu tiba, kesedihan yang sangat bukan akan dekat dengan mertua, namun pada meninggalkan tetangga kami yang begitu baiknya di kota sebelumnya. Bahkan, ketika kami pamit, ada suara serak yang tertahan dan butiran bening di sudut mata mereka. Serta doa panjang buat kebahagian kami di mana kami berada nantinya. Tersentuh pada dasar hatiku. Perhatian mereka pada kami selama ini, yang bukan siapa- siapa bagi mereka, yang tiba- tiba hadir di kampung itu, begitu tulus kami rasakan. Ada kehilangan sangat bagi mereka yang telah menganggap bahwa kami adalah bagian dari mereka.

Tentang perpisaan ini, membawa saya pada kebaikan mereka yang tak bisa terbahasakan semua. Sebagaimana ketika saya sakit dahulu. Dengan bergantian para tetangga menjenguk. Padahal sakit pun tak parah, saya pun sampai malu telah merepotkan mereka, namun itulah bentuk perhatian. Dan, setiap ada acara kampung, mereka dengan "spesial" datang mengundang kami, yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga kadang kurang tanggap dengan kegiataan. Begitupun jika ada hari khusus yang biasanya mereka membuat makanan khusus, dengan setia menghampirkan pada kami. Serta, saat harus memasak, tawaran garam, cabai, atau apalah yang mereka punya di berikan semua untuk bisa saya gunakan dengan cuma-cuma. Itu hanya secuil kisah kebaikan tetangga ku, masih banyak bahkan lebih hebat dari itu.

Saya sering membayangkan tentang desa kecil Edensor dengan penuh kedamaian. Menganggapnya hanya utopia dalam cerita. Namun, saya telah salah menafsirkannya. Edensor memang benar adanya dan aku menjadi bagian di dalamnya. Bukan di lereng bukit yang landai dengan pohon cemara- cemara yang mengelilinginya, namun di tengah hutan beton dan rimba pabrik Edensor itu ku temukan, di kampung itu.  

Dan, saya menjadi sangat kehilangan. Bagaimanapun, perpisahan apalagi dengan (mantan) tetangga ku itu telah membuatku menangis.