Hebat Itu dari Saya

Monday, 23 June 2014

Hebat Itu dari Saya

Bukan karena ikutan meramaikan pilpres dengan mengambil judul yang jadi jargon salah satu parpol yang ikut di bursa menuju RI 1. Atau merasa narsis dengan jika sekilas membaca judulnya yang serasa saya sotoy sekali. Sekali lagi bukan maksud keduanya, atau ketiga, keempat dan seterusnya. Namun judul tersembut diambil melalui isthikoroh, upss maksudnya pertimbangan dan seminar parenting Bunda Neno Warisman yang beberapa minggu kami lakukan.

 Sebagai orang tua, atau calon orang tua seperti saya, memiliki anak yang "sukses" menjadi doa dan harapan. Namun apakah kita telah "sukses" juga menjadi orang tua bagi mereka?. Tak adil rasanya jika kita menuntut mereka berprestasi namun kita sendiri sebagai orang tua masih jauh dari ukuran "prestasi" itu sendiri. Saya agaknya kurang setuju jika ada orang tua yang mengatakan, "tidak apa-apa orang tuanya bodoh, yang penting anaknya nanti pintar". Bagi saya itu hanya PHP (Pemberi Harapan Palsu). Bagaimana tidak, orang tua agar anaknya "sukses" setidaknya mampu memberi contoh yang baik atau memberi motivasi anaknya untuk meraih kesuksesan itu sendiri (sebagai catatan, kesuksesan orang tua di sini bukan pada keberhasilan memberi nafkah yang berlebih dan berpendidikan tinggi, namun bagi saya mampu mendidik anak sesuai nilai agama, berempati dan mau belajar itulah kesuksesan).

Mengambil dari filosofis tanaman, buah berkualitas berasal dari bibitnya yang unggul. Meskipun ada beberapa faktor x yang berpengaruh dalam perkembangan bibit menjadi buah yang berkualitas namun tak dipungkiri bibit unggul mutlak harus digunakan. Dari situ, saya selalu berpikir dan termotivasi jika saya ingin anak saya berbakti pada saya dan suami, maka saya mengawali harus berbakti pada orang tua kami. Jika saya ingin anak saya nanti hafidz dan hafidzoh, maka minimal sekarang saya juga harus giat menghafal. Atau, jika saya ingin anak kami ahli komputer maka saya mulai dengan rajin ngeblog (yang ini maksa, :D).

Bagaimanapun buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Maka dari itu, agar nanti anak-anak kita menjadi generasi berkualitas, berguna bagi agama, nusa, dan bangsa, maka selayaknya kita terus belajar untuk menjadi hebat. Karena ilmu menjadi orang tua itu tak berhenti atau habis kita pelajari setelah kita menjadi bapak-ibu, atau kakek-nenek. Tak hanya terbatas di seminar parenting dengan HTM yang mahal. Namun ilmu tersebut harus terus kita gali dan pelajari dimanapun dan sampai kapanpun untuk bisa memantaskan kita menjadi orang tua yang hebat. Sehingga,hebat itu dari kita, dari anda, dan juga dari saya. 



2 comments:

  1. bener banget mbak, kadang sifat anak itu 'turunan' dari orang tuanya, walo nggak semua seperti itu.. wah saya sendiri belum pernah jadi ortu, hehehe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. meski belum jadi ortu tapi calon orang tua kan?# sama kagak ya ^_^

      lebih baik lagi jika untuk menjadi orang tua hebat bahkan dipersiapkan jauh sebelum jadi ortu/ menikah.

      Delete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D