Saturday, 25 January 2014

# Keluarga

Sawang Sinawang

      
Setelah lama berpisah dengan teman main atau teman sekolah, mulai dari SD sampai kuliah, suatu saat ada keinginan untuk tahu kabar dan keadaan. Apalagi jaman sekarang, hampir semua orang tak meninggalkan sosmed sebagai ajang mencari dan dicari orang lain. Tinggal tulis nama, akan muncul profile orang yang kita inginkan. Tidak hanya itu, bagi orang yang suka ngap-date berbagai info, foto, akan dengan mudah didapat tentang kehidupan pribadinya

Melihat kabar teman, ada yang berprofesi ini, punya ini, menikah dengan ini, mempunyai anak segini, atau apa saja. Namanya manusia rasa iri atau ingin juga seperti teman itupun kadang muncul. Tak memungkiri saya sendiri kadang juga seperti itu. Atau ketika bertemu seseorang yang kita tahu sekilas kisah hidupnya. Dari kecil sampai besar terasa hidupnya tanpa penderitaan jika di banding kita. Setelah lulus kuliah, di terima kerja di tempat bonavit, dan menikah dengan eksmud kaya. Oh, serasa kok Allah itu tak adil sekali ya. Memberi kenikmatan yang melimpah dan hidup yang selalu bahagia kepadanya. Sedangkan kita saja, untuk cari kerja saja harus berdarah- darah untuk mendapatkannya, itu saja hanya pesuruh saja*lebay.

Beberapa orang juga sering mengeluhkan nasib dirinya dan memandang indah kehidupan orang lain. Sampai ada yang berkata "Andai aku menjadi dia, pasti...", apakah semudah itu?.Tentu tidak. Banyak yang melihat rumput tetangga lebih hijau dari apa yang dimilikinya. Padahal kadang kehijauan itu adalah kepalsuan. Bisa juga hijau yang kelihatan adalah hasih cat, atau bisa juga adalah rumput imitasi yang pemiliknya saja tak bisa menikmati dan ingin juga lepas dari rumput "hijau"nya tersebut.

Intinya, tak perlu iri melihat rumput tetangga lebih hijau. Kita tak bisa tahu apa yang sebenarnya di kehidupan orang lain. Orang jawa mengatakan bahwa hidup itu sawang sinawang. Orang lain melihat indah kehidupan yang lainnya, begitupun sebaliknya. Padahal, tak mesti demikian. Apa yang kita lihat belum tentunya sama dengan yang dirasakan orang lain. Boleh lah melihat, namun sebagai motivasi agar bisa menjaga rumput agar tetap hijau yang sesungguhnya, namun tak harus menjadi tetangga tersebut kan?.

Yang utama adalah bersyukur terhadap pemberian Allah. Yakin bahwa, Allah telah menciptakan manusia sesuai porsi dan perannya di dunia. Mungkin peran kita yang terlihat tak berharga di mata manusia mempunyai derajat yang tinggi di sisiNya, kita tak akan pernah tahu itu. Dan, bukankah Allah telah berjanji di surat cintaNya akan menambah nikmat hambaNya yang bersyukur dengan kenikmatan yang berlipat- lipat pula.

Sekarang tinggal diri kita, terus menerus melihat iri rumput tetangga atau merawat rumput kita sehingga menjadi istimewa, semua terserah kita. :)

6 comments:

  1. Jujur saja mbak, saya juga sering berpikiran "rumput tetangga lebih hijau" jika lihat postigan/biodata yang ada di jejaring sosial Facebook dll. Tapi saya sadar, rasa itu muncul dari kurangnya rasa syukur saya kepada Allah atas nikmat yang dilimpahkan saat ini... :)

    Kadang rumput tetangga sebenarnya tak lebih hijau dari rumput kita, bener itu "sawang sinawang" semua tak seindah yang kita lihat :)

    ReplyDelete
  2. memang hidup sawang sinawang ya mbak, capek jadinya kl lihat rumput tetangga terus yg disangkanya hijau, padahal belum tentu :)

    ReplyDelete
  3. @Ditya : Iya mas intinya adalah selalu bersyukur terhadap apa yang di limpahkan Allah pada kita

    ReplyDelete
  4. @ mbak el : iya mbak, klo nyawang orang terus bisa- bisa hidup jadi "ngenes", capek sendirikan jadinya.

    ReplyDelete
  5. baru tahu ni ,, jadi rumput tetangga itu hijau karena habis dicat // hha #salahfokus

    ReplyDelete
  6. Hairi cipta: haha, rumput imitasi/plastik

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D