Dilema Seorang Wanita

Friday, 21 June 2013

Dilema Seorang Wanita


Mengapa saya tidak bekerja?. Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin untuk saya bekerja saat itu. Namun, saya pikir buat apa tambahan uangdan kepuasaan batin yang barang kali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasaan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya?Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orang tua kehilangan anak dengan uang dan kepuasaan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya putuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu (Ainun Habibie, Tahun- tahun pertama)”
Membaca kutipan diatas rasanya saya juga tak akan rela menyerahkan perawatan buah hati saya pada orang lain. Apalagi pada khadimat/ baby sitter. Benar kutipan diatas, jika saya melakukannya itu artinya saya akan kehilangan kejutan dan hadiah istimewa melihat perkembangan si buah hati sediap detiknya. Bukan itu saja, usia 0- 6 tahun sebagai Golden Ages buah hati akan terstimulasi maksimal jika ibu meluang waktu. Itulah sebuah andai dan do’a tentunya jika buah hati telah di amanahkan kepada saya dan suami.
Ada kekawatiran tersendiri, apakah nanti saya mampu melaksanakan tugas sebagai ibu yang sesungguhnya (benar- benar merawat)  bagi si buah hati atau hanya sebagaian waktu sisa kerja dengan penuh kelelahan untuk merawat mereka?. Karier yang sedang saya tapaki, atau tuntutan ekonomi membuat saya dapat berpaling dan menyerahkan pengasuhan pada orang lain. Jika ada hubungan keluarga mungkin saya masih bisa merasa lega meninggakan mereka dan bekerja. Beda lagi jika perawatnya bukan siapa- siapa, dan pendidikan dan keahlian merawat baby pun masih diragukan. Sementara orang terdekat dengan buah hatilah yang menjadi guru pertama mengenal dunia dan belajar kehidupan dan cinta..
Memang banyak juga wanita yang bekerja namun tetap bisa mendidik buah hati mereka. Namun saya percaya, sebagai wanita mereka mempunyai dilema yang sama dengan saya. Ingin menjadi ibu yang sesungguhnya bagi buah hati mereka..

18 comments:

  1. @ mbak eL : hehehe, kayaknya saya harus "meguru" ke mbak ely untuk masalah yang satu ini..

    ReplyDelete
  2. Salam kenal juga ya mbak, sesama ibu rumah tangga :)

    ReplyDelete
  3. kalau menurut saya wanita tidak perlu dilema, insya allah mbak setiap niat baik selalu ada jalan karena hidup adalah pilihan.. mau jadi wanita karir tanpa melepas tanggung jawab sebagi ibu ya bisa, mau pure jadi IRT pun bisa saja.. asalkan keduanya dijalankan dengan penuh tanggung jawab.. cerita saya, istri saya juga bekerja sebagai guru dan mengajar setengah hari, pagi sampe siang arfa dititip ke pengasuh tapi alhamdulillah saya dapat pengasuh yang bisa kami andalkan selain pintar dalam mengurus arfa dan kerjaan rumah lainnya, dia pun berpendidikan (lulusan SMA) dan sudah berpengalaman dalam mendidik anak karena dia pun punya anak kecil sekarang masuk SD.. saya sudah percaya sama si Mbak dan sampai saat ini Arfa begitu dekat dan sayang sama Mbaknya tersebut.. dan setelah siang sampe pagi lagi Arfa bersama kami dan mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari kami sehingga Arfa tumbuh dan berkembang menjadi anak yang cerdas dan insya allah menjadi anak yang soleh.. oleh karena itu mari kita tentukan pilihan.. setiap wanita berhak mengeksplorasi diri asalkan pasangan dan keluarganya selalu mendukung ^^

    ReplyDelete
  4. Bahagia sekali ya Pak jika ada seseorang yang telah kita percaya untuk bisa mengasuh buah hati kita.
    Saran dari bapak memberikan satu poin bagi saya untuk tetap mengajar ( profesi yang sama dengan istri pak papapz) dan tetap bertanggung jawab terhadap keluarga saya.

    ReplyDelete
  5. Mbak Anis, dilemanya sepertinya bisa saya mengerti. Saya bisa merasakan bagaimana ibu saya membesarkan saya dengan 'betul-betul menjadi ibu' sementara dia sendiri bekerja. Itu sulit, Mbak. Tapi, ibu saya bilang dia punya kepuasan tersendiri dengan menjalani peran ganda sebagai IRT dan wanita bekerja.

    Kekurangannya adalah ketika Mbak Anis punya anak lagi. Kekuatannya Mbak Anis akan berkurang sehingga didikan anak pertama dan setelahnya sedikit berbeda. Karena jujur, saya dan adik-adik saya ada perberbedaan dalam hal didikan.
    [pendapat pribadi]

    ReplyDelete
  6. @fauzi :memang mas ketika bekerja dan berumah tangga bisa beriringan ada kepuasaan tersendiri.

    namun namanya manusia, ketika capek kadang mengeluh. :(

    ReplyDelete
  7. iya mbak.. pekerjaan mengajar salah satu pekerjaan yang diperbolehkan jika memang memenuhi konteks syar'i dan menurut saya adalah salah satu pekerjaan yang mulia.. memang terkadang istri saya juga ngeluh dan merasa dilema tapi saya semangati terus gak papa kerja saya akan dukung selama itu baik, pekerjaan rumah tangga sebagiannya saya handle agar istri tidak terlalu cape.. tapi satu saat saya berniat agar istri di rumah saja karena makin tambah usia pasti makin akan melelahkan mengerjakan semuanya itu, saya berdo'a semoga Allah memberikan rezekinya kepada saya dan keluarga aamiin

    ReplyDelete
  8. dilema yang manis jika pada akhirnya bisa menjalani keduannya, jadi ibu yang mampu berbagi sayang dengan anak-anak tetapi juga bisa bekerja mencari nafkah...

    sebenarnya sang bapak juga punya porsi yang sama dalam tanggung jawab....saling silang, menutupi, membantu....

    ReplyDelete
  9. wkwkkwkkwk.. ketemu maneh ndk blogg...

    ReplyDelete
  10. @ papapz : memang klo istri bekerja, suami sebaiknya mendukung baik secara fisik (membantu pekerjaan rumah, apalagi yg tidak mempunyai pembantu/asisten) atau juga motivasi.

    @aryadevi : saling membantu dan memahami tentunya..
    terima kasih kunjungannya, salam kenal ya..

    ReplyDelete
  11. @ catur : kok dunia sempit ya, skolah ketemu, teman fb dan sekarang teman ngeblog. waahh kyak e biar blogger tambah rame anak IPS 4 ajak ngeblog juga aja tuuurrrr

    ReplyDelete
  12. dilema inilah yang membuat para Wanita (terutama Ibu) menjadi spesial, secara alamiah kemampuan multitasking mereka menjadi lebih terlatih dan berkembang dibanding para Pria

    setiap Ibu itu hebat, dan signifikan!! :)

    ReplyDelete
  13. @Iqbal : itulah betapa mulianya seorang ibu yang mampu menjalani berbagai peran dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  14. wanita pagar bangsa...wanita 'pemicu' segalanya...karena wanita begitu berharga....
    wahhh jadi kayak pujangga saja saya..hehe..salam kenal

    ReplyDelete
  15. umunya wanita bekerja karena ingin memperbaiki kekuatan ekonomi rumah tangga. Nah, baiknya sih seorang suami mampu memperkuat kondisi ekonomi tersebut sendirian. Jadi, istri gak perlu susah payah bekerja. Istri saya dulu bekerja sebagai IT di perusahaan ternama, tapi setelah menikah ia memilih untuk di rumah saja. Saya tak pernah menyuruh atau melarang bekerja, tapi istri saya percaya pada suaminya bahwa memiliki kemampuan yg baik menjemput nafkah, seperti percayanya suami bahwa istrinya bisa mengurus buah hati :)

    ReplyDelete
  16. Kangfarhan : cocok atu bang jadi pujangga, hehehe, salam kenal juga kang
    Haris : memang keputusan besar untuk total mengurus rumah tangga bagi wanita adalah keputusan yang harus di dukung juga oleh pihak suami sebagai partner dalam rumah tangga.

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D