Enemy Number One

Friday, 12 April 2013

Enemy Number One


Akhir-akhir ini yang membuat jengkel saya bukan sesuatu yang dulu saya anggap perlu. Karena sekarang  ini saja dia “cinta” dengan saya. Padahal segala daya dan upaya telah aku usahakan agar si dia ini lepas dari saya. Tak di sangka kini dia menjadi musuh nomer satu bagi diriku # agak lebay memang.
Dulu saya easy going saja dengan wajah ku. Karena dari dulu si jewi kagak betah lama-lam di wajahku. Paling tumbuh satu, saya usir dia pun takut dan pergi. Tapi hukum tadi tak berlaku untuk saat ini. Saya jadi berpikir, kurang jahatnya apa pada mereka sehingga dengan suka cita dan setia mereka menjadi laksana bintang menghiasi malam. Bertebaran dimana-mana.
Semua berawal dari keinginan membasmi jewi sampai ke akar-akarnya. Kala itu jerawat yang hanya tumbuh saat “datang tamu”, ingin saya hilangkan dengan memberi obat jewi yang di beli di apotik. Bukannya hilang malah sebesar bijih jagung. Katanya sih efek purging jadi saya lanjudkan. Tapi waktu pulang kampung, si emak teriak-teriak melihat wajah anaknya berjerawat. Setelah dapat bisikan dari kanan kiri, emak minta anak gadisnya ke salon. Heran juga awalnya, sampai sebegitunya reaksi emak dan sebagai nak yang patuh ma emak ya saya nurut saja. Hitung-hitung sekali-kali merasakan perawatan di salon. Facial di salon muslimah terkenal pun dijalankan. Bisa di tebak bukannya bersih bin kinclong malah si jewi di sana sini. Atas saran saudara, saya ,mencoba produk MLM herbal yang harganya lumayan. Lagi-lagi belum ada hasilnya L. Akhirnya satu minggu ini saya off dari kosmetik. Bukannya ngambek dan putus asa dengan kosmetik tapi ingin menetralkan kulit yang capek karena kosmetik.
Banyak cerita yang saya dapatkan dari si jewi. Saat saya belanja di toko tetangga contohnya, bukannya bicara tentang belanjaanya, malah curcol juga tentang jewi ponakannya. Katanya jewinya kembar dengan saya. Baru tahu kalau tak hanya manusia yang ada kembarannya, begitu juga jerawat. Pernah juga satu hari ada kira-kira lima orang yang komentar tentang si jewi. Hmmm, kok pada perhatian dg jewinya, bukan ke saya?# sama kagak ya...lola.
Yang bikin gemes adalah ketika bersama teman ku sesama guru. Kita yang lagi ngobrol kemana-mana yang berujung pada jerawat, saya berkomentar kalau jerawat saya agaknya sudah mulai menghilang. Muridku yang kebetulan bermain di samping kami, langsung menimpali “mana yang hilang us jerawatnya?, itu masih ada merah-merahnya”, sambil menahan tawa atas kejujurannya dan menyadari kalau kata-kata anak kecil adalah kejujuran. Itu artinya jewi ku benar-benar parah. Moga cepat sembuh ;)



2 comments:

  1. coba dibasuh dengan air rebusan daun sirih merah, atau air rebusan daun sirih hijau. Mudah2an cocok.

    ReplyDelete
  2. Sekarang susah mendapatkan daun sirih, apalagi di kota,:(

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D