Menanti Dia

Saturday, 16 February 2013

Menanti Dia


Tak banyak yang bisa ku ungkap dengan kata tentang dia. Pertemuan yang tak lebih hanya dari jumlah salah satu jari tangan kita, tak mampu diriku mendiskripsikan dia. Keindahan akhlaknya yang membuat diri berharap suatu saat bisa halal untuknya, yang jadi sebuah inspirasi untuk menulis tentang dia. Akhlak itu saja. Karena kita, aku dan dia memahami tak seharusnya rasa terjalin sebelum ikatan suci. Menjaga hati sampai Allah sungguh mempersembahkan dia jika memang untuk melengkapi hidup saya.

Yang ada di ingatan ku tentang dia yang ku nanti, tingginya dia yang beberapa centi meter di atas ku, mempersilahkan aku untuk menempati kursi bis yang jadi jatahnya. Menghalau orang lain yang berusaha merebutnya, mengikhlaskan dirinya berjam-jam berdiri untuk kasih sayang dan perlindungan bagi wanita yang tak di kenalnya. Sekilas, di tangan kirinya memegang buku tentang islam, yang mengisyaratkan dia haus akan pengetahuan.  Wajahnya tak tampan, hanya jenggot tipis dan pandangan teduh yang bertemu sebentar dengan mataku, ketika terima kasih aku sampaikan. Kemudian hati ini tiba-tiba yakin, pandangan dia terjaga dari yang haram untuk dinikmati. Pergaulannya terhindar dari yang hal tak patut, karena kepahaman dia tentang harus adanya batas antara lawan jenis. Ya, dia tak lebih dari lelaki biasa yang mempunyai jiwa luar biasa. 

Dia yang ku nanti, bukan aktivis dakwah dengan tingginya jam terbang. Bukan pria hebat dengan sematan gelar dari keluaran PTN terkenal. Bukan pula, Dia tampan dengan segala kemewahan. Serta, yang pandai beretorika dalam debat kenamaan. Tetapi setiap adzan berkumandang, dia meninggalkan aktifitasnya untuk menuju kekasihNya yang utama, mengabdikan hidupnya untuk melayani sesama dan menerapkan ajaran agama dalam setiap lini kehidupannya.

Dia yang ku nanti, tak lebih dari manusia lainnya dengan asam manis pengalaman. Jatuh bangun dalam mencari jalan kebaikan, karena semua itu adalah proses dan sunah dalam perjuangan. Tapi, dia tak diam stagnan. Mencoba terus bergerak dengan ide brilian dan langkah yang kongkrit dalam menjejakkan cita-cita kenyataan. Masa lalu adalah spion kehidupan yang boleh dilihat sebagai bahan refleksi tapi tak untuk terus di nikmati sehingga terbuai oleh mimpi.

Dia yang ku nanti, bukan malaikat dengan segala kesempurnaan, tapi manusia biasa yang terus belajar tentang makna kehidupan.

8 comments:

  1. ehem, cuma bisa dihitung pake hitungan jari :)
    dari dua paragraf terakhir sepertinya sudah sering mengamati dia ya?
    #ehhh??...hehehe,,,

    ReplyDelete
  2. dia manusia biasa yg insyaAllah hatinya luar biasa yg kan datang menjemput ukhti tuk hidup bersama.. bersabarlah saat menunggu kedatangannya.. :D

    ReplyDelete
  3. Mbak Alfath : mengamati tak harus bertemu, kan bisa dalam dunia "maya"nya, hohoho :)

    ReplyDelete
  4. Mbak Ambar : Insyallah mbak, dia Insyallah yang terbaik yang dipilhkan Allah untuk mendampingi saya :)

    ReplyDelete
  5. berarti ini yg ditulis tentang calon suaminya ya :)

    ReplyDelete
  6. Mbak Alfath :hahay, bisa iya, bisa juga tidak. biasa mbak..bahasa "sastra" agak hiperbola..hehehe

    ReplyDelete
  7. subhanallah..
    barokallah ya mb
    smg sakinah mawaddah wa rohmah..

    ReplyDelete
  8. Heny : amiin heny, moga cepat nyusul dan aku dapat undangannya# ngarep.

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D