Galau Tingkat Akut

Sunday, 9 December 2012

Galau Tingkat Akut

Kalau sudah lulus kuliah, kerja dan usia sudah matang, hal yang paling di inginkan cuma satu yaitu nikah. Normal, bahkan normal sekali. Bahkan keinginan nikah kadang menjadikan seseorang menjadi galau. Maklumlah, yang di bayangkan tentang pernikahan adalah hal yang menyenangkan. Boleh sih, bahkan harus biar ada semangat ke arah sana. Tapi, hidupkan ada suka dukanya, sedih gembiranya juga. Semuanya berpasangan dan bergantian, itulah hidup yang sesungguhnya (seperti udah mengalaminya saja - katanya sih gitu-). Walaupun sering mendengar kabar pertengkaran, bahkan perceraian dalam rumah tangga, itu tak membuat menyurutkan niat ke arah sana. Bahkan banyak sekali teman saya, yang notabene adalah akhwat (akhwat juga manusia ), mengalami kegalauan tingkat akut.


Seperti contohnya panggil saja Sari. Kalau dipandang sekilas, dia sangat mapan. Kerja ditempat bonafit, dan telah mempunyai kendaraan sendiri. Tapi kalau diukur secara materi, bagaimanapun kebahagian bukan pada materi, tapi perasaan nyaman dalam menjalani hidup. Pada posisinya sekarang, Sari sering cucol dengan saya, tentang keinginan dan masalahnya. Dan, setiap permasalahan, ujung-ujungnya satu solusinya "Nikah". Jadi sampai menelan ludah saya di buatnya tentang argumennya yang selalu menghubungkan apapun dengan pernikahan,
Berbeda dengan, Riri..Dari segi sifat dia tidak terlalu show out menunjukan keinginannya. Bagi orang-orang di dekatnya memahami dia ingin sekali menggenapkan separuh dinnya. Maklum semua teman sekolahnya sudah berkeluarga, dan lingkungan ternyata memberi andil besar penyebab galau akut. Begitu pula orang tuanya yang ingin ia segera berumah tangga. Otomatis, dia menjadi galau karena ingin menikah.
Dan bagi mbak Rini, berbeda mengekspresikan kegalauannya. Dia lebih banyak diam, dan sekalikali berkomentar kalau keinginan ke arah sana tetap ada, meski dia harus di kejar usia.
Sekarang saya jadi paham, wanita dalam penantian sungguh banyak godaannya. Yang tak sanggup pasti akan masuk dalam lubang kemaksiatan.. Pernah punya niatan dan semoga terealisasikan, bisa membuka biro jodoh untuk wanita-wanita sehingga dapat menemukan belahan hatinya, tentunya dengan jalan yang benar.
Kalau cita-cita itu sih, harus menikah dulu. Kalau belum mana ada klien yang percaya, wong biro jodohnya saja belum menikah. ;).
Catatan di pagi
yang mendung

7 comments:

  1. ceritanya hampir sama dengan beberapa teman yang galau nikah, bahkan biro jodoh yang resmi dibuka oleh jama'ah tarbiyah kebanyakan prposal nikah yang masuk adalah proposal akhwat. pertanyaannya kemana para ikhwan??

    *ini pendapat dari teman sih, kebanyakan ikhwan tidak mengikuti jalur perjodohan yang disediakan system jama'ah, mereka lebih memilih jalur tunjuk dgn jari (memilih jodoh pasangan dgn mandiri) melalui ustad/murabbi tanpa jalur proposal yg disediakan lewat system jamaa'ah(jalur tunjuk), jalur lain adalah jalur jari manis (jalur menemui orang tua calon pasangan) tanpa jalur murabbi/system jama'ah..

    maka tak heran kebanyakan akhwat jadi galau karena data proposal ikhwan yang masuk k system memang sedikit, sedangkan jumlah proposal akhwat begitu banyak karena tak bsa mengakses jalur lain sebebas ikhwan..

    *iki ngomongin apa siihh.... ??

    ReplyDelete
  2. komen mas fahmi ahmad mungkin ada benarnya juga

    ReplyDelete
  3. Ada satu jalan yang mungkin dapat penulis tambahkan ke dalam tulisan. Yakni, pihak akhwat menyampaikan keinginannya menikah dengan ikhwan tertentu melalui orang tua/wali atau orang yang dipercaya. Mungkin ini juga patut dipertimbangkan karena tidak seluruh daerah di Indonesia kegiatan lamar melamar adalah wewenang lelaki (Bahkan Khadijah R.A juga demikian bukan?). di lamongan, mempelai wanita 'melamar' pria, di daerah tertentu di sumatra juga demikian. Jadi, kalau dirasa sudah mampu dan yakin,kenapa tidak? :)

    mengenai komen ttg proposal di atas. Saya juga tahunya sistem demikian dari teman. Untuk lebih jelasnya mungkin bisa penulis paparkan dalam satu artikel ttg proposal pernikahan yg dimaksud karena tidak semua warga muslim menggunakan proposal tersebut. (hanya saran, kali aja berkenan, kalo tidak jg tdk apa-apa) :D

    ReplyDelete
  4. mas fahmi ahmad dan Mas Kholil...> akhwat berpendapat melalui jalur proposal ke jama'ah dianggap lebih aman ketika ingin mendapatkan jodoh yang bagus dalam agamanya..meski kenyataannya proposal akhwat banyak yang menumpuk dan jika tak kuat, bisa menggadaikan imannya.
    mbak alfath...> ide yang bagus mbak menulis tentang sebuah sistem yang seting di sebut "ta'aruf"
    Terima kasih semua buat komennya.

    ReplyDelete
  5. memang sih, system yang demikian aman dari fitnah dan perilaku dan metode yang tidak syar'i. tapi kenyataannya harus ada perbaikan, Wa Allahu a'lam yang baiknya seperti apa?

    ReplyDelete
  6. ahwat wa ikhwan fillah..
    dalam menjemput jodoh memang sbaiknya dengan cara, jalan n tujuan yg benar.
    meski melalui jalur murrobby/ sistem jama'ah, setahu ane kitapun juga diperkenankan menjemput jodoh kita melalui jalur mandiri spt apa yg disampaikan akhi fahmi achmad "jalur jari manis" (jalur menemui orang tua calon pasangan).
    so menurut ane tidak ada salahnya jika kedua jalur kita gunakan bersamaan tetapi harus ada konfirmasi antara jalur resmi sistem jamaah dg jalur mandiri (komunikasi n koordinasi yg jelas kpd MR).

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah, semakin dapat pencerahan ni setelah membaca koment teman2..syukron katsir..

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D