Tentang Sebuah Keputusan

Sunday, 4 November 2012

Tentang Sebuah Keputusan


Kebahagian seorang sahabat adalah ketika sahabat yang sangat di sayanginya mendapatkan kebahagian. Seperti raga, jika salah satunya terluka maka, anggota badan lainnya juga merasakannya. Demikian dengan sahabatku kali ini, panggil saja dia Rina. Kebahagian yang tersirat dari wajahnya, membuat hati ini merasa senang. Gaun putih bersih yang di kenakan, dan di jilbabnya yang menjulur panjang di hiasi melati putih yang indah. Seindah pernikahannya dan tentunya prosesnya.
Teringat ketika dia datang ke kos dengan senyum malu-malu mengantar kan sesuatu. 


"Alhamdulillah...Selamat ya", Hanya itu yang dapat saya ucapkan ketika menerima kertas ungu bertuliskan nama rina dan calon suaminya.
"Terima kasih, mohon doanya, datang ya", sambil tersipu malu.
"Insyallah, saya pasti datang"
Kemudian cerita kebahagiaan itu mengalir. Dari awal dia proses ta'aruf sampai akhirnya menikah. Sekali lagi keputusannya untuk tidak pacaran, dan mengambil ta'aruf sebagai proses Insyallah membawa berkah.
"Apa engkau yakin dengan calon suami mu rin, sementara kalian hanya bertemu ketika berproses",tanya sari, temanku yang lainnya, dengan penuh keheranan.
"Insyallah, yakin". Jawab rina meyakinkan.
"Semudah itu?, dalam urusan dunia akhirat lhooo", Sari mempertanyakan kembali.
"Bukan semudah itu, tapi dengan proses dan tentunya sholat istikharah."
"Padahal engkau belum mengenalnya secara pribadi, apa itu bukan sesuatu gambling?, Sari masih percaya bahwa pacaran atau kontak pribadi adalah cara untuk mengenal pasangan.
"Saya niat menikah untuk ibadah dan menjaga diri, tentunya mengharapkan Ridha Allah, dan jalan yang saya tempuh pun Insyallah sesuai syariat mengapa saya harus ragu?, dan info apa yang kita butuhkan dalam pernikahan semua di jelaskan tanpa tambahan dan tentunya perbaikan demi kebaikan bersama, begitupun juga orang-orang yang membantu dan memberi pertimbangan ketika proses ini juga tak diragukan kebaikannya. Intinya, dari awal sampai keputusan ini terambil,  menurut saya, semua telah baik, mengapa saya harus meragukan kebaikan calon suamiku nanti?", dengan lugas rina menjelaskan panjang lebar.
Dalam hati aku turut membenarkan apa yang di sampaikan rina. Keputusan yang terambil memang tidak begitu saja ada, tapi sekali lagi melalui proses pertimbangan dan do'a. Bagaimanapun dalam urusan apapun termasuk jodoh misalnya, manusia hanya ikhtiyar, do'a dan tawakal. Urusan hasil kita serahkan pada yang Kuasa. Jika seperti itu Insyallah indah pada waktunya.

4 comments:

  1. setuju sama artikelnya, apalagi kalau prinsip menikahnya benar2 karena Allah. Bagaimanapun nanti suami-nya, baik buruk nya kan sdh diyakini sbg ujian dan ladang amal utk beribadah kpd Allah. Indah sekali ya kalau sudah "lurus" seperti itu, shg tidak lg mencari seseorang yang "sempurna". :)

    ReplyDelete
  2. Iya mbak, semoga kita termasuk golongan orang yang lurus.

    ReplyDelete
  3. sip deh.....walau suara hati hati udah berkata tapi alangkah indahnya jika mendengarkan suara langit....{sholat istikhoroh}......semoga barokah....!!!!!

    ReplyDelete
  4. Kholil >> pertimbangan logika, nasihat orang-orang terdekat dan tentunya "petunujuk Allah" merupakan alasan untuk membuat sebuah keputusan.

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D