Pepatah oh Pepatah

Sunday, 4 November 2012

Pepatah oh Pepatah

Kata pepatah seh gitu..."Berjalan sampai ke batas, berenang sampai ke pulau". Emang pepatah punya mulut ya sehingga bisa bicara?, atau pepatah itu siapa ya?. Dan itu semua pertanyaan gila yang gak perlu ada jawabannya. Tapi bukankah para penemu atau orang-orang pintar (bukan dukun lo ya) dulu sering dianggap gak waras dalam proses penemuannya?, sampai-sampai membaca cerita Einstain yang katanya orang pinter paling wahid, dahulunya sempat mengerami telur ayam karena pengen tahu proses menetasnya ayam.
Bicara pepatah, maka muncul di pikiran saya (kalau di buat kartun, pasti muncul gambar lampu di kepala, hehehe), kok ada pepatah dari mana ya?, apa ada konsensus dari dewan bahasa yang menyatakan kalau suatu kalimat bisa di sebut pepatah atau tidak.

Sepertinya harus belajar banyak tentang bahasa. Saatnya angka-angka harus berbagi dengan huruf-huruf mengisi pikiranku. Karena setiap kalimat atau pepatah banyak makna yang tersimpan. Apalagi jika dipakai dalam puisi banyak bahasa tersirat. Satu kata seribu makna.
Oya kembali lagi pada makna pepatah diatas, pembaca pasti sudah tahu. Katanya sih, dan menurut analisa saya (sok pakai logika), kalau melakukan sesuatu gak boleh setengah-setengah. artinya harus sampai titik terakhir pekerjaan..jadi tersindir sendiri nih, skripsiku....oh tidakkkkk...
Dan, jangan sekali-kali mengartikan pepatah apa adanya. Tanpa analisa yang matang. Karena pasti menyulitkan diri sendiri. Coba aja pepatah diatas kita artikan. Kalau berjalan sampai ke batas, batasnya mana ya bumi kita ini?, kan bulat bentuknya. Lagian capek lagi jalan, lebih cepetan pakai kendaraan.hehehe...(ketahuan jarang olah raganya), dan kalau berenang dari pulau ke pulau sih, baru nyebur laut saja udah di makan ma ikan paus...*pikiran liar*
Bagaimanapun pepatah juga mengajari kita berpikir kritis. Termasuk dalam memandang sesuatu dalam hidup ini. Tak hanya saklek terhadap apa yang kita lihat, tapi banyak makna yang tersimpan. Tentu hal itu semua membuat hidup semakin berwarna.

4 comments:

  1. hemmmm.......saklek itu apa ya......????

    ReplyDelete
  2. saklek..>>>>> terpacu pada yang ada, tidak memikirkan lebih lagi.

    ReplyDelete
  3. Menarik sekali nih...pepatah sama dengan penunjuk jalan demi meraih harapan yg bermakna.

    ReplyDelete
  4. Pariwisataboy__ :iya setuju pak...itulah salah satu kekayaan bahasa Indonesia. Penuh dengan pepatah.

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D