Jodoh Itu sederhana

Wednesday, 24 October 2012

Jodoh Itu sederhana

" jodoh, rejeki, urip lan mati iku wis onok sing gawe, tapi nyapo menungso kok bingung karep e dewe", celoteh ibu-ibu di sampingnya tiba-tiba ketika melihat sesuatu membuat afa terbangun dari tidur curian di atas bis.Mendengar kata-kata itu Rasanya "jleb" banget hatinya.

"Betapa tak sadarnya, orang di sebelah ku ini kalau orang di sampingnya termasuk golongan itu. " Batin afa berbicara.

Maklum afa begitulah aku memanggilnya telah menjadi anggota tetap "galauwer". Komunitas rindu menikah. Entah kapan berdirinya dan entah dimana kantor sekretariatnya, tapi komunitas itu tiba-tiba ada, dengan anggota afa beserta kelima temannya.

Meski dengan hati mulai dongkol sebesar batu kali, tetap saja afa "wawancara" dengan ibu yang kebetulan sebangku dan tentunya seperjalan dengan afa. Dari pada nantinya di dicap perempuan sombong, perempuan pelit bicara, atau yang lainnya, basa-basi dikit cukuplah, pikir afa kala itu.

Ibu yang usianya mulai senja itu hangat ketika berbicara. Apalagi melihat Afa yang sendiri, dan dengan gaya la mahasiswi (biasa, pake ransel dan sandal jepitnya), segera ibu di sebelahnya menyimpulkan kalau Afa masih belum nikah. Ditanya belum menikah, langsung semangat empat lima untuk mempromosikan diri segera tumbuh. Sapa tahukan ibu tersebut punya anak, keponakan, atau tetangganya yang kemungkinan adalah jodohnya. Bukankah selama ada wanita yang belum nikah, dan lelaki belum menikah peluang jodoh adalah mungkin?, kan lelaki yang menikah saja, masih kemungkinan jodoh dengan poligami, pikiran afa semangat.

Perbincangan pun dimulai. Tapi, tak seberapa lama afa kembali kecewa. Dari cerita ibu disampingnya, anak lelakinya masih SD. What???, bisa tua atuhh nunggu putranya si ibu. Terus adiknya sendiri semua sudah menikah, dan rasanya dah pasrah tak mendapatkan jodoh dari keluarga ibu yang baik itu*Memuji, karena habis dibayari naik bisnya. Lumayan. Meski lima ribu, bisa untuk makan siang.Maklum anak kos,ahahaha*. Jadi nyesel niat awal cuma basa basi, eh ternyata baik banget ni ibu. Trima kasih ibu, batin afa.

Manusia yang baik itu dimanapun membawa manfaat. Si Ibu, di samping afa bagai oase di padang penantian bagi afa. Cerita yang mengalir darinya ketika bertemu dengan bapak anak'-anaknya( suami), sungguh unik. Ceritanya sangat sederhana, dijodohkan orang tua karena mereka bertetangga. Dari guyonan ketika berbelanja antara ibunya ibu itu dengan mertunya ibu itu (agak membingungkan)yang kebetulan buka warung kebutuhan sehari-hari, jadi deh ke pelaminan. Padahal antara si ibu dan suami dulu kagak ada rasa sama sekali. Cinta itu bisa di tumbuhkan ketika menikah. Menikah dulu baru cinta. Prinsip yang sederhana tapi hati afa membenarkan.

Diujung perpisahan, karena si ibu telah sampai tempat tujuan, satu pesannya yang sangat menyentuh. "Kalau sudah waktunya di pertemukan, bagaimanapun caranya pasti ke pelaminan mbak". Afa menganggukan kepala sambil cengar- cengir. Jadi malu sama si ibu, sebab tadi sempat afa mengutarakan keinginannya untuk menikah, dan ibu itupun sepertinya paham perasaan afa yang sesungguhnya, atau jangan- jangan ibu itu punya indra ke enam. Ampyuuunn, pikiran kagak jelas mulai menjangkiti afa lagi.Hmmm

Dari cerita afa, saya jadi ingat cerita temanku yang lainnya. Nanik begitu panggilnya. Seperti gadis desa lainnya, setelah lulus SMP dia menikah. Maklum di desa ku, pendidikan warganya masih sangat kurang. Dan, ketika aku datang ke pernikahannya, sambil bercanda kutanyakan kok bisa mendapatkan suami yang beda kecamatan. Maklum, dia termasuk anak yang jarang bergaul. Singkat saja jawabannya "Jodoh itu sederhanaa". Kemudian dia bercerita tentang pertemuannya dengan suaminya yang bermula dari sms nyasar (Ehmm, emang betul-betul nyasar atau sengaja di sasarkan?), terus mereka ketemuan, si calon suami  lalu langsung ke rumah nanik dan meminta untuk melamar dan akhirnya menikah. Sederhana.

Beda lagi dengan mbak sari, begitu saya memanggilnya. Menikah dengan suaminya hanya berjarak dua bulan setelah mereka bertemu untuk pertama kalinya. Itu artinya mereka belum pernah ketemu, apalagi kenal  masing-masing.  Mereka menikah melalui guru ngajinya. Dengan menyetorkan biodata, dan setelah cocok mereka ta'aruf, kemudian menikah. Singkat dan Insyallah barokah.

Dan, tentunya masih banyak kisah pernikahan yang saya dapatkan. Memang ada kalanya, jodoh itu sederhana, tapi pada suatu waktu melalui proses panjang dan berliku. Bagaimanapun itu jalan yang di atas berikan untuk hamba-hambaNya.

2 comments:

  1. jodoh memang tidak akan kemana, tapi kalau kita tidak punya usaha untuk medapatkannya jodoh tak akan kunjung datang, jika di ibaratkan jodoh itu seperti pecahan mata uang, ada dimana-mana tapi kita tidak akan pernah mendapatkannya tanpa usaha

    ReplyDelete
  2. DUIT deh pokoknya ( Doa, Usaha, Ikhtiyar dan tawakal)

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D