Tanya Sang Embun

Sunday, 2 September 2012

Tanya Sang Embun


Ditengah malamlah aku dijatuhkan oleh Sang Pencipta. Melalui proses yang mengikkhlaskan panas diri terenggut. Menjadi setetes bening di pagi hari. Dan kini aku jarang di temui. Bersembunyi dalam pekatnya polusi bumi.
Kala itu, aku bisa bahagia bertemu dedaunan. Menyentuhnya dengan kesejukan yang aku bawa. Dan, daunpun memberiku warnanya yang segar.

Masa telah bergulir dan berubah.
Aku hanya terdiam dalam perang masa. Yang paling ku nanti, panggilan pembuka hari. Bahkan semua dengan khusuk mendengar seruan itu .Inilah yang kurindukan ketika berada dilangit. Ya, suara yang selalu sama, Parau. Bersama sesekali batuk mengiringi. Telah bertahun -tahun berlalu, tetap saja suara itu setia  menghias fajar. Sekarang aku berpikir, ketika lelaki tua itu telah disampingNya, akankah ada penggantinya yang mengumandangkan panggilan suci yang begitu indah?,Generasi muda telah asyik dengan dunia. Melenakan keberkahan subuh karena sesuatu yang fana.
Tuhan dengan kuasanya mengijinkan aku berkelana.Mengikuti tiupan angin senja dan menghadiahkan diri pada dunia yang mulai berubah warna. Kadang, dalam hayalku, ingin rasanya, aku mendengar kebangkitan generasi muda islam dari tidur panjang. Mengumandangkan adzan pada fajar sebagai langkah awal perbaikan.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D