Antara Vertical Limit dan Annapura

Wednesday, 12 September 2012

Antara Vertical Limit dan Annapura

Kau tidak akan bisa menaklukan sebuah gunung.
Kau berdiri di puncak selama beberapa detik
Kemudian, tiupan angin menghilangkan jejak-jejak kakimu.
(Kutipan di buku Annapura)

Ketika jalan-jalan ke IBF Surabaya yang di selanggarakan 3-9 September 2012 lalu, saya tertarik membawa pulang buku berjudul Annapura. Yang bikin beda,
meski saya penyuka buku tapi buku yang satu ini unik sekali. Biasanya saya membeli buku tentang islam, novel religi dan motivasi. Tapi kisah tentang perjuangan sekelompok wanita untuk menaklukkan puncak Annapura (salah satu puncak yang ada di pegunungan himalaya ) membuat saya penasaran untuk membelinya.

Tak rugi rasanya menguras dompet untuknya karena kisah yang ada full hikmah. Bermula bagaiman Arlene Blum yang merupakan seorang dosen boikimia beserta ke dua belas teman wanitanya ingin mewujudkan mimpi untuk mendaki salah satu puncak tertinggi yang ada di dunia. Pada waktu kawasan himalaya hanya  para pria saja yang mendapatkan ijin untuk mendakinya. Dengan keyakinan penuh bahwa wanita juga bisa kesana, mereka pun bekerja keras untuk mewujudkannya. Di mulai dengan menggalang dana puluhan ribu dolar, mengelola berton-ton makanan, dan mengatasi sulitnya medan yang juga disertai seringnya pemogokan kerja oleh para Sherpa. Dan untuk menuju puncak mereka harus menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk melaksanaknnya. Ternyata keberhasilan mereka harus dibayar mahal. Dua orang pendaki harus merelakan nyawanya di telan Annapura. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Qonita, PT mizan Pustaka, bisa menjadi motivasi bagi anda wanita pecinta alam. Rasanya ingin suatu kali bisa mendaki salah satu gunung di Indonesia, menikmati kemahaanNya dari apa yang diciptakanNya meskipun saya bukanlah satu nominasi pecinta alam yang sesungguhnya.
Kemudian, aku teringat film favorit aku yaitu vertical limit. Hampir sama dengan buku Annapura, menceritakan tentang pendakian Film yang menceritakan petualangan seorang pendaki gunung bernama Peter yang harus melakukan usaha penyelamatan di K2, puncak gunung tertinggi nomor dua di dunia.
Dia bermaksud menyelamatkan adiknya, Annie dan anggota timnya
Setahun sebelumnya, kedua kakak-beradik itu mengalami kecelakaan pendakian yang sangat mengenaskan.
Peter terpaksa memotong tali pengikat ayahnya untuk menyelamatkan adiknya dan dirinya sendiri. Rasanya sedih sekali ketika melihat adegan itu, karena seperti buah simalakama ada dua hal yang sama pentingnya. Dan hidup memang harus mengambil keputusan. Ayahnya pun meninggal.
Setelah kejadian itu, Peter mengasingkan diri dan menjadi fotografer alam, sementara adiknya berusaha mewujudkan impian ayahnya untuk menaklukkan puncak gunung tertinggi.
Namun bagaimanapun, ketika orang yang kita sayangi berada dalam bahaya, apapun akan kita lakukan. Demikian juga peter lakukan. Dengan segenap daya upaya dia segera mencari tim untuk berangkat ke puncak menyusul adaiknya. Kisah penyemalatan peter dan kisah dramatis perjuangan hidup adiknya menjadi tontongan yang menarik, dan tentunya juga mendidk jika kita mengambil hal positifnya.

5 comments:

  1. Buku Annapurna ini adalah cerita tentang ekspedisi pertama di dunia yang anggotanya perempuan semua.. Namun sayangnya, harus ada yang jadi korban dari misi ekspedisi ini..

    ReplyDelete
  2. sudah pernah membaca juga ya Sam?

    ReplyDelete
  3. aku pernah lihat yang vertical limit nya. meskipun lupa-lupa ingat, itu dulu sempat merinding lihat ayahnya harus jatuh.. terus waktu ekspedisi si adek juga ada beberapa orang yg kedinginan saling memakan dsb. wih... itu bukunya kisah nyata kah Anis?

    ReplyDelete
  4. emang keren tu film, biasanya film barad sering hanya menonjolkaan kekerasan dan seks (maaf), namun di film ini vertical limit banyak sekali hikmah difilm, contohnya ketika harus memilih dan ayahnya yang jadi korban dan jatuh.
    iya fath, tu kisah nyata. Sama vertical limit, namun semua personilnya perempuan kecuali sherpanya. dan ada dua pendaki yang jadi korban.

    ReplyDelete
  5. selain ayahnya siapa saja yg jadi korban dari pendakian itu?

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D