Cantik Nomor Tiga

Tuesday, 28 August 2012

Cantik Nomor Tiga


Lebaran, selain sebagai ajang bermaafan juga sebagai ajang untukberkumpul dengan sanak saudara. Inilah kesempatan untuk bernostalgia dengan keluarga. Mengenang masa kecil, dari kenakalan sampai kelucuan kita terkumpul menjadi satu. Tak jarang, karena salah satu cerita dari anggota keluarga, kita sampai tertawa, atau bahkan sampai menitikan air mata. Maklum, kami bertujuh saudara, dan semua kakak telah berkeluarga
. Cucunya pun telah 13. Bayangkan jika hanya bertemu dalam moment lebaran, pasti cerita-cerita tak akan habis untuk dikisahkan.
Kali ini cerita yang jadi faforit adalah dari keponakanku. Anak yang satu ini memang terkenal paling gosil di antara sepupunya. Bagaimana tidak, sejak kecil dia terkenal sebagai mbok kuyur ( mengambil dari nama seseorang tetangga saudara yang terkenal suka keluyuran), gayanya yang supel menjadikan banyak mempunyai teman. Itulah salah satu alasan ortunya yang juga kakak ku mengirimnya ke PM Gontor Putri. Bukan untuk memenjarakannya dalam pondok, tapi untuk memberinya sebuah arti tanggung jawab. Karena hobinya yang suka “travelling” waktu kecil itulah  ada anekdot dari keluarga, “ untung Handa di pondok, kalo gak gitu sepanjang jalan ke pare (kecamatan kami biasanya sekolah), pasti kenal semua”. Tapi dari dia kelucuan- kelucuan muncul, salah satunya yang satu ini.
Sejak kecil Handa ingin sekali kulitnya putih. Maklum adiknya berkulit bersih dan sangat mencolok perbedaannya. Black and white. Perbedaan ras inilah yang membuatnya dia terobsesi sekali. Bahkan waktu kecil minta di belikan bayklin. Ibunya bertanya buat apa, perasaan baju juga kagak ada yang kena noda. Usut di usut ternyata ingin buat badannya, biar menjadi putih bersih seperti habis di pemutih.
Kala itu, obsesinya untuk putih tiba-tiba hilang. Kami juga heran dengan mimpinya yang tiba- tiba memudar. Karena penasaran aku pun menanyakan.
“Aku tak perlu putih lagi”, ada kelegaan sendiri ketika mendengarnya. “Karena saya sudah cantik nomer tiga di kelas”, Rasanya senang sekali mendengarnya, yang kala itu aku masih kelas satu SMA. Itu artinya dia telah memahami kalo cantik tak perlu berkulit putih. Karena jujur saja keponakan yang satu ini memang manis sekali.Cantik nomer tiga?, hal itu merupakan kebanggaan tersendiri bisa masuk katagori cantik nomer tiga di kelas. Penasaran mulai menjangkitiku. Diantara berapakah dia yang tercantik?.
Ternyata, setelah menahan tawa karena ternyata cantik nomer tiga diantara empat wanita, kemudian muncul kebanggan tersendiri di hatiku. Dia lebih PD setelah itu dengan predikat yang dia sandang. Dan, aku memahami karena cantik bukan pada urutan ke berapa kita berada. Yang terpenting adalah bagaimana kita mensyukuri cantik yang Allah berikan pada kita dan cantik luar dalam itulah yang diperlukan.

2 comments:

  1. "Yang terpenting adalah bagaimana kita mensyukuri cantik yang Allah berikan pada kita dan cantik luar dalam itulah yang diperlukan." <----- setuju :)


    Salam kenal mbak, ijin baca2 tulisannya ya.

    ReplyDelete
  2. salam kenal juga mbak..
    monggo, dengan senang hati, silahkan di baca dan di beri koment..masukan dari mbak Katerina sangat saya tunggu.

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D