Yang Telah Terluka

Monday, 16 July 2012

Yang Telah Terluka


“Mbak, Sepertinya aku seperti tidak punya suami lagi...aku gak kuat mbak...”
Kata itu yang sering engkau ucapkan. Teman, aku hanya bisa mendengarkan saja. Semuanya lebih dari jangkauan ku. Engkau adalah istrinya, aku hanya orang lain dalm kehidupanmu. Begitu juga orang tu yang telah membesarkan engkau dengan limpahan harta. Sekali lagi, limpahan harta.
Harta yang katanya ibu mu demi engkau tak menjawab apa-apa lagi. Aku hanya nangis mendengar setiap derita mu. Seseorang yang dulu engkau puja dalm pacaran yang tega menodai engkau sebelum ikatan itu ada. Dan, setelah pernikahan terucap dan bayi mungil dikehidupan engkau, ahhh malah dia mensia-siakan kamu dan anak itu.
Dulu kita sering menasehati sebagai teman. Hanya sebagai teman. Karena keputusan semua kembali pada engkau yang menjalani. Bahwa engkau memutuskan untuk tetap membina hubungan haram dengannya.
Terasa seperti di pukul dengan martil mendengar rencana pernikahan engkau. Bukan karena aku iri engkau mendahului ku ke arah sana. Karena sebuah kecelakaan dan akhirnya memaksa engkau dalam pernikahan. Setelah sepuluh hari mmenikah, engkau melahirkan. Bagaimana rasanya ditanya orang lain, sebagai orang yang dikenal dekat dengan engkau. Berat menjelaskan bagaiman sesungguhnya yang terjadi. Aku tutpi, toh orang lain akhirnya tahu juga apa yang terjadi meski bukan dari bibirku
Pernikahan bagiku sesuatu yang sangat agung. Perjanjian yang sangat berat bahkan perjanjian yang di saksikan penghuni langit dan bumi, tapi ketika hanya sebagai penutup aip , sungguh sangat diseslkan.
Sahabat, Sungguh apa yang engkau alami sungguh menjadi pelajaran yang  luar biasa bagi kehidupan ini. Bukan diriku pribadi tapi juga orang lain dan tentunya semua yang membacanya.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D