Sebuah Jati Diri

Wednesday, 20 June 2012

Sebuah Jati Diri

Membuka- buka buku harianku awal tahun 2008, hati ini terpaut pada salah satu tulisanku waktu itu. “Akhwatkah Aku”, sebuah judul yang aku pilih kala itu. Sebuah tulisan tentang peneguhan hati untuk memutuskan berhijab yang sesungguhnya. Bukan berarti sebelumnya aku tak berjilbab. Keputusan untuk terus berjilbab telah aku ambil sejak kelas dua SMA. Sebelumnya sih tutup jika sekolah buka jika dirumah. Alhamdulillah hidayah Allah untuk terus melaksanakan perintahnya hadir dihati ini. Begitu juga ada dilema yang luar biasa ketika harus berhijab yang tak biasa. Mengapa aku mengatakan tak biasa?, ketika
teman-teman memakai jilbab dengan berbagai mode terkini, aku memilih jilbab lebar gombrong yang mirip karung. Ketika teman-teman suka cita memilih legging jadi trend bajunya. Aku memutuskan untuk selalu menggunakan baju longgar. Kuno. Biarlah kata orang seperti itu. Namun kemudian setan terlalu pintar untuk menjerumuskan manusia. Godaan dengan jurus-jurus ampuh selalu dilancarkan. Muncul dihati ini mengapa menggunakan jilbab lebar kalau tingkah laku saya belum menunjukan seorang akhwat yang sesungguhnya. Keraguan itu terus berlanjud. Dan, Allah maha penyayang sampai suatu hari berdiskusi dengan teman dan menemukan sebuah jawaban.
Tak selamanya seorang jilbaber adalah segalanya. Dia bukan malaikat atau bidadari dengan kesempurnaan. Mungkin disatu sisi dia kurang baik tapi dalam penjagaan auratnya sangat baik. Bukankah jika saling mengisi kekurangan dengan nasehat-nasehat menjadikan lebih baik dan terasa indah sebuah ukhuwah?.Dan usaha untuk terus memperbaiki diri itulah bagiku sekarang akhwat yang sesungguhnya.

5 comments:

  1. keren mbak... disaat kebanyakan wanita memakai jilbab gaul. mbak tetap teguh pendirian.
    dibilang enggak modis gpp. yang penting modis di mata Alloh.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Kadang memang hidup adalah pilihan. Dan ketika pilihan bersandar pada sang Maha Pemberi hidup, itulah sesungguhnya sebaik-baiknya manhaj hidup.
    Trima kasih untuk kunjungan dan komentarnya.

    ReplyDelete
  4. subhanalah.... istiqomah ya ukthi., engkaulah sang bidadari surga.

    ReplyDelete
  5. Amiin, Trima kasih kunjungannya.
    Semoga kita selalu bisa istiqomah di dien yang lurus ini.

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D