Satu Nama di Langit Surabaya

Monday, 30 April 2012

Satu Nama di Langit Surabaya

Jika nama adalah do'a, entah berapa kali aku menemukan nama yang sama. Kebetulan atau sesungguhnya orang tua mempunyai tujuan yang sama terhadapnya. Kalau bicara apalah arti sebuah nama, Tentu ada yang menganggapnya sangat berharga. Termasuk diriku. Karena tiap nama, dan tiap pribadi menyimpan kisah tersendiri. Memperkaya cerita dalam dunia yang ku arungi


  • Kisah ke satu
Kotak raksasa dengan muatan manusia bergerak membelah kota pahlawan. Termasuk diriku, yang menjadi korban ketidaknyamanan angkutan umum. Berdesakan, bau keringat yang bercampur parfum yang mulai busuk , ditambah lagi asap rokok yang mengepul tanpa ampun, memperlengkap penderitaan. Tapi sesungguhnya, aku tak sendirian .Termasuk EKA, begitu namanya. Gadis manis seumuran denganku. Begitu lemah menghadapi kondisi seperti ini. Muka pucatnya, membuatku tega merelakan kursi yang sedari tadi ku nanti. Karena rasa trima kassih atau merasa tidak enak merebut kursi secara halus. Akhirnya, menggantikan aku membayar karcis 5. 000 itu. Itulah, kenalan pertamaku dengan cewek cantik yang mengaku bekerja sebagai pegawai pusat pelayanan sebuan Perguruan Tinggi swasta.

Dari situlah, awal pertemanan kami. Saling sms tanya kabar. Bahkan Ari sering berjam-jam telpon curhat tentang hidupnya. Entahlah kadang ada keraguan terhadap ceritanya. Tetapi aku mencoba untuk tetap berbaik sangka. Bukankah itu yang sebaiknya dilakukan sebelum kita betul- betul mengetahui bukti yang sesungguhnya. Pernah suatu hari, dia sms butuh pulsa, dan sedang berada di kendaraan .Niatku hanya satu, membantu. Segera kuisikan meski hanya 5 ribu. Maklum anak kost. Kantong tunggu kiriman.hehehe.
Sampai suatu hari, Dia sms lagi minta dikirimi pulsa. Alasannya kali ini beda. Ditempat kosnya hujan deras sehingga tidak bisa keluar. Tiba-tiba naluri detektifku muncul. Kebetulan teman SMA ku dulu kuliah dan kos didekat tempat yang dikatakan ari hujan. Segera aku konfirmasi. Ternyata langit ternga benderang. Aku tak tahu alasan pastinya. Bagiku, EKA telah berbohong untuk kali nin. Meski aku baru mengenalnya, tapi kebohongan yang dibangunnya cukup membuatku unutk berpikir ulang menjalin persahabatan yang lebih dekat dengannya.

  • Kisah ke dua
    Kebahagian ikut merasuk jiwa ketika sahabat kita akan menuju pelaminan. Persiapan yang cukup banyak tentu membutuhkan bantuan dari orang dekat disekitarnya, termasuk diriku. Untuk kali ini aku diamanahi untuk memesankan undangan. Bukan pekerjaan berat. Tinggal kepercetakan, memesan sesuai yang diinginkan dan jadi deh. Tapi berbeda jika si punya percetakan itu cerewet tujuh turunan. Kalau emak-emak sih maklum, la ini mas kribo dengan gaya funki nya.
    Dan lagi, aku menemukan nama yang sama EKA.

  • Kisah ke Tiga
    Kali ini, aku bagai mati kutu. Bertemu bidadari dunia. Subhanallah, cantik pintar dan good religion. Ya, dari pengamatanku sekilas bertemu dengan mbak ini, disebuah toko buku. Kebetulan kala itu, aku salah mengambil sepeda. Maklum sepeda pinjam, dan baru kali itu aku memakai sepeda mbak tiya. Tentunya aku tidak tahu detail sepedanya, ketika mau pulang kunci aku masukkan tapi tetap aja ma sepeda gak mau menerima. Bukan punyanya sih. Tiba- tiba mbak yang cantik dengan pelan bicara “mungkin itu sepeda mbak”, dengan malu-malu aku pindah dari sepeda mbak Eka, yang kutahu nama nya setelah bertemu kembali dijalan. Sedang membagi-bagi makanan pada anak jalanan.Salut deh, untuk nama EKA kali ini.

Satu nama, tiga orang, dikota yang sama. Mempunyai karakter yang berbeda. Sungguh, Allah Maha Kuasa Segala Sesuatu. Dengan mudah menciptakan tiga manusiaa yang berbeda latar belakang dengan nama yang sama.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D