Ketika Matematika Jadi Sahabat Setia

Saturday, 1 October 2011

Ketika Matematika Jadi Sahabat Setia




Masih ingat salah satu iklan produk sampho, yang menggunakan “siapa takut”, sebagai jargonnya?, yang langsung disambut pasar dengan mengikuti gaya “siapa takut” nya dalam bahasa publik.Seharusnya kita, baik orang tua, guru atau peserta didik sendiri, menggunakan jargon tersebut untuk belajar matematika, yang notabene selama ini matematika dianggap ilmu yang “Membosankan, menakutkan, membingungkan, dan
tentunya juga menyebalkan”. Itulah kata-kata yang sering kita dengar dari siswa-siswa SD, SMP, SMA, bahkan mahasiswa perguruan tinggi ketika diminta pendapatnya tentang pengalaman belajar matematika.Bagi mereka pelajaran matematika sama sekali tidak menarik, dan hanya merupakan kumpulan angka-angka dan rumus saja yang tidak dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.Paradigma lain yang sering kita temui, bahwa belajar matematika di sekolah hanya sekedar bagaimana agar siswa dapat menyelesaikan soal-soal ujian dengan baik ,demi mengejar nilai.Itulah salah satu faktor kebencian terhadap matematika.
Untuk menjadikan matematika seperti sepotong pizza,(mengambil istilah Hernowo, “Andai Buku sepotong Pizza”), Maka ada beberapa hal yang harus jadi perhatian kita.Dimyati, Dalam bukunya
Belajar dan Pembelajaran, mengatakan agar proses belajar mengajar dikelas berjalan efektif, maka ada beberapa prinsip yang perlu di perhatikan bagi peserta didik, diantaranya :
  •     Perhatian
Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar.Dalam kajian teori terungkap bahwa belajar tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi.Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada seseorang (siswa), jika bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya.Oleh sebab itu jika perhatian ini tidak ada pada siswa maka perlu di bangkitkan perhatiannya..
·    
  •    Motivasi siswa dalam belajar matematika
       Perlu di kritisi juga sifat guru matematika yang sering di pandang menakutkan,bak seorang monster juga harus di buang jauh-jauh.Untuk itulah pendidik juga harus memperhatikan beberapa strategi pembelajaran yang dapat digunakan,sehingga pelajaran matematika menjadi mengasyikan bagi peserta didik,  diantaranya :
1)      Tahap Penanaman Konsep
Tahap penanaman konsep merupakan upaya untuk memberikan pengertian-pengertian konsep sesuai dengan objek yang dihadapi, dengan demikian perlunya alat peraga atau media yang mendukung materiyang di jelaskan.Disinilah guru di tantang untuk lebih kreatif dan inovatif membuat Media pembelajaran matematika.
2)      Tahap Pemahaman Konsep
Ciri-ciri manusiawi matematika hanya dapat dialami dan diapresiasi oleh para peserta didik kalau mereka mempelajari matematika itu juga secara manusiawi, yaitu dengan membangun sendiri pemahaman mereka akan unsur-unsur matematika. Pemahaman tersebut dapat terbentuk bukan dengan menerima apa saja yang diajarkan dan mengahafalkan rumus-rumus dan langkah-langkah yang diberikan, melainkan dengan membangun makna dari apa yang dipelajari dengan mempergunakan informasi baru yang mereka peroleh untuk mengubah, melengkapi atau menyempurnakan pemahaman yang telah tertanam sebelumnya, dengan memanfaatkan keleluasaan yang tersedia untuk melakukan eksperimen, termasuk di dalamnya kemungkinan untuk berbuat kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut
3)      Tahap Pembinaan Keterampilan
Pada tahap ini dapat digunakan dengan menggunakan latihan latihan seperti mencongak dan bermain

           Seorang guru yang mampu menghadirkan diri sebagai sosok teman yang akrab, familiar, mau terbuka untuk mendengarkan, dan membantu setiap kesulitan yang dihadapi siswa kiranya akan mudah diterima oleh siswa daripada guru yang menampilkan diri sebagai sosok yang galak, seram menakutkan, dan sering menghukum siswa. Kedekatan secara personal antara guru dan siswa akan membuat siswa lebih terbuka mengungkapkan kesulitan dan persoalan yang dihadapinya dalam pembelajaran matematika sehingga guru juga akan lebih mudah untuk membantu mencari solusi yang tepat.(Nur,2001:51)

Secara sederhana, penulis dapat menarik kesimpulan, bahwa salah satu ciri pembelajaran matematika yang manusiawi adalah bukan hanya menunjukkan konsep-konsep atau rumus-rumus matematika saja, melainkan juga menunjukkan tentang aplikasi dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari, yang tentunya dalam menginformasikannya disesuaikan dengan tingkatan atau jenjang sekolah siswa. Sehingga, para siswa diharapkan akan menjadi tertarik dan tertantang untuk berusaha memahami metematika lebih dalam, karena dalam pikiran mereka tentunya sudah tertanam subur bahwasannya, matematika sangat akrab dengan dunia aktivitas sehari-hari. Akibatnya kesan negatif yang selama ini menghantui dunia matematika akan hilang dengan sendirinya.

Dengan melaksanakan pembelajaran matematika yang humanis, tentu akan berakibat pada diri siswa untuk senang dan tertarik dalam belajar matematika. Mereka akan berusaha menyenangi matematika dan diharapkan akan berdampak pada pencapaian prestasi yang unggul. Memang, semua siswa tidak dapat dipaksa untuk mempelajari matematika. Namun, tentunya siswa harus tetap dimotivasi agar dapat menguasai konsep-konsep matematika dasar yang kiranya dibutuhkan dalam kehidupan yang akan mereka jalani, semisal: konsep matematika dalam praktik jual beli, perencanaan keuangan keluarga, anggaran membangun rumah, dan sebagainya. Jenis-jenis matematika dasar inilah yang tidak akan bisa ditinggalkan.(Ansari,2003:2)
 





 


No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan JEJAK di Rumah ku ini :D